Strata

Strata

By Celvi_SparKyu

Cho Kyuhyun | Seo Joohyun | Oc

Romance | Drama

Two(or)Three(Shoot)

Rate PG 15

StoryLine Is Mine

Sebelumnya, saya hanya sekedar mengingatkan bahwa Fiction ini pernah saya post di Fb, yang belum bisa respon di Fb bisa respon di sini. Terimkasih, *bow

Happy reading, guys.

Strata Chap 01

_Story Begins_

Udara dingin pagi ini mampu menembus seluruh kulit mahkluk hidup, tidak terkecuali Joohyun. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi, mentari juga masih terlihat enggan menapaki langit, namun tidak dengan Joohyun.

Meski mata masih terasa berat, kantuk meradang serta lelah menerjang. Gadis bermarga Seo tersebut mau tidak mau harus bangun untuk memulai hari. Melakoni aktivitas panjang menjengahkan sampai matahari tenggelam di ufuk barat.

Saat ini, Joohyun baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Bibirnya terlihat sedikit pucat efek dinginnya udara. Padahal Joohyun mandi menggunakan air hangat yang sudah pelayannya siapkan sebelumnya.

Joohyun duduk pada kursi rias, menatap pantulan wajah mengerikannya pada cermin. Kantung mata yang menggantung menandakan bagaimana kondisinya.

Miris. Si gadis tersenyum culas. Hidupnya memang indah, berkelimah harta tetapi tidak membuatnya bahagia. Joohyun merasa terkurung, seperti burung dalam sangkar.

Jika burung tersebut hanya bisa berterbangan kecil sesekali berkicau, maka Joohyun hanya bisa menuruti perintah sang ayah karena sederat kata dalam kalimat singkat yang keliar dari bibir sang ayah beberapa tahun lalu.

‘Pergilah dan kau akan melihat ayahmu ini membujur kaku dalam peti mati’ .

Joohyun kembali tersenyum mengingat bagaimana wajah sang ayah ketika mengatakannya. Penuh tuntutan sekaligus ancaman dan jelas membuatnya tidak bisa mengelak. Karena satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat ini adalah sang ayah.

Ibunya meninggal sekitar sembilan tahun lalu akibat penyakit mematikan, sementara kakaknya memilih melepas marga Seo di depan namanya untuk mendapat kebebasan. Mengejar impiannya.

Sejak kecil, kakak Joohyun memang sangat menyukai dunia seni. Terutama seni pahat. Kadang pula Joohyun mendapati kakaknya sedang mengumpulkan kayu ataupun ranting yang bisa dipahat. Kemudian membuatkannya sebuah pahatan kecil berbentuk burung yang sedang mengepakkan sayap. Bersama sebuah pesan berbunyi,

‘Suatu saat nanti, hidupmu harus seperti Elang di alam liar. Bebas melakukan hal apapun tidak terkecuali membunuh demi bertahan hidup.’ Yang mana saat itu belum –bahkan mungkin hingga saat ini belum Joohyun ketahui maksudnya.

Mungkin saat ini kakaknya sudah seorang pengukir patung handal di suatu Negara. Joohyun benar-benar iri dengan kebebasan sang kakak namun sama sekali tidak pernah menyimpan dendam. Sebaliknya, Joohyun juga ikut merasa bahagia atas kebahagiaan kakaknya.

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Joohyun, melalui cermin di hadapannya dia dapat melihat seorang pelayan sedang memasuki kamarnya.

“Selamat pagi nona, apa tidur anda nyenyak?”

Joohyun tersenyum tipis. “Selamat pagi, kantung mataku bisa menjawabmu, Young Ae -ssi .”

Mata si pelayan menyendu. Kakinya melangkah lebih cepat mendekati Joohyun lalu meletakkan segelas susu hangat di atas meja rias Joohyun. Setelah itu berdiri di samping Joohyun.

“Boleh saya membantu anda mengeringkan rambut?” Joohyun tersenyum tipis, gerakan tangannya mengeringkan rambut melambat.

“Aku akan sangat terbantu jika kau mau membacakan jadwalku hari ini. Aku yakin kertas kecil berisi segala jadwal untukku sedang menunggu sentuhan tanganmu dalam saku itu, Yong Ae-ssi .”

Lee Young Ae mendesah kecil, dengan berat dia meraih selembar kertas kecil dalam sakunya. Membuka lipatannya kemudian mulai membacakan jadwal Joohyun hari ini. Beberapa kali Joohyun mengangguk paham.

“Yang terakhir, anda harus mengunjungi ladang gandum.”

Pembacaan jadwal memuakkan ditutup dengan seruputan kecil Joohyun pada gelas susunya.

Lee Young Ae membungkukkan badan, undur diri. Berselang, Joohyun berdiri, berjalan menuju jendela. Menyibak tirainya dan membuka kedua pintu jendela secara beraamaan. Seketika, udara segar berlomba memasuki ruangannya. Tubuh Joohyun terasa lebih segar dua kali lipat. Dia bahkan tidak lagi merasa kedinginan.

Lembayung pagi menarik bibir si gadis bangsawan. Membentuk garis lengkung ke atas begitu tipis, namun nampak sangat manis. Sampai-sampai seorang pemuda yang melintas dan kebetulan tanpa sengaja melihat Joohyun terpaku seketika.

Tanpa sadar dia melakukan hal yang sama dengan Joohyun, tersenyum. Bola mata si pemuda mengerling kecil. Dengan langkah kian bersemangat dia memetik gitarnya dalam satu genjrengan dan bibirnya terbuka menyanyikan sebait lagu.

***

Mobil miliknya sudah menghilang di balik tikungan. Joohyun segera memutar langkah, kembali pada pondok kecil tempat biasa para pekerja istirahat untuk mengambil sesuatu lantas keluar dengan membawa peralatan lukis.

Pinggir ladang menjadi tempatnya berpijak. Setelah selesai dengan segala persiapan. Joohyun mulai menuangkan cat warna, beberapa kali mencampur warna guna mendapat warna yang diinginkan sebelum akhirnya meraih sebuah kuas.

Dia mengambil napas sesaat sambil memejamkan mata. Setelahnya mulai mengoleskan kuas berlapis warna pada kanvas. Awalnya hanya berupa garis samar tanpa arti lalu bergabung bersama garis lain hingga membentuk pola yang kian lama mulai terlihat apa yang saat ini sedang Joohyun lukis.

Bukan ladang juga bukan gubuk tempat pekerja berteduh. Jauh dari dua tempat tersebut.

“Sepertinya lukisanmu indah.”

Joohyun hampir melakukan sebuah kesalahan dengan salah menggores kuas pada lukisan yang tengah dibuatnya karena sebuah suara mengejutkan. Joohyun segera memutar kepala setelah meletakkan kuas di dekat pallet.

Siluet seorang pemuda dengan membawa sebuah gitar tengah berjalan ke arahnya tertangkap oleh lensa Joohyun. Sosok itu menatapnya, mereka saling menatap. Tanda diduga, si pemuda memberinya senyum tipis lalu tanpa aba-aba mengambil tempat di sampingnya.

“Dugaanku benar, kan?” Dia tersenyum sesaat, “Sepertinya kau seorang pelukis handal.”

Kelopak mata Joohyun mengerjap cepat. Secara canggung dia berdeham lalu kembali meraih kuasnya.

“Bukan urusanmu. Dan lagi…,” kepala Joohyun menoleh kearah pemuda itu. “Seingatku ladang ini tidak dibuka untuk umum.” Lanjutnya sedikit sinis.

Alih-alih merasa tersinggung, pemuda bersurai cokelat tebal justru terkekeh. “Terimakasih sudah mengingatkan, nona. Selama aku tidak melakukan tindakan krimnal, kurasa tidak masalah jika berada di sini.”

Tidak ada tanda-tanda balasan dari Joohyun. Dan pemuda itu sama sekali tidak menyerah untuk mendapatkannya.

“Oh ya, perkenalkan namaku Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Kau?”

Desis angin yang menjawab. Sementara tangan Joohyun terus bergerak, melanjutkan lukisan. Kyuhyun kembali menarik uluran tangannya yang tidak dibalas oleh Joohyun. Kini, dia menatap lurus hamparan gandum siap panen. Sesekali melirik lukisan Joohyun.

“Kupikir yang sedang kau gambar adalah pemandangan disini, ternyata tidak. Era peperangan, ya? Menarik.”

Mata Kyuhyun kian lekat mengamati lukisan Joohyun. Nuansa peperangan begitu kental. Bangunan porak-poranda. Hujan darah dimana-mana. Tombak menancap pada dada banyak orang. Tubuh tidak lagi utuh serta beberapa penduduk yang coba menyelamatkan diri.

Dari sekian banyak scane , yang paling menarik perhatian Kyuhyun adalah adanya sebuah rumah dengan seorang gadis terperangkap di dalamnya. Wajah gadis kecil berusia kisaran lima tahun tersebut terlihat sangat sendu. Pelupuk matanya yang berair menatap tanpa kedip burung-burung yang berterbangan, namun dia hanya diam berdiri. Seolah menanti takdir hidupnya. Mati bersama orang-orang disana atau hidup karena sebuah keajaiban tidak terduga.

“Kalau boleh tahu, kenapa di sana ada seorang gadis kecil yang tidak melarikan diri?”

“Menurutmu?”

“Gadis itu terlihat sangat ingin pergi, kabur, tapi dia tidak bisa melakukannya. Seolah ada yang menahannya untuk tetap tinggal, terperangkap dalam keadaan mencekam disekitarnya.”

Goresan terakhir berhasil Joohyun buat. Sebuah titik besar berwarna putih di sudut kiri yang menurut Kyuhyun menjadi inti dari lukisan tersebut. Joohyun menoleh pada Kyuhyun. Keduanya bertemu pandang.

“Emosi tergambar jelas dalam lukisanmu.”

Joohyun meletakkan kuas kemudian mulai memberesi segala peralatannya melukis. Lalu memandang Kyuhyun dengan sebuah senyum. Kyuhyun bersumpah, senyum gadis itu terlihat sangat manis. Serupa gulali.

“Terimakasih atas segala pujian serta apresiasimu, sebelumnya perkenalkan, namaku Seo Joohyun. Pemilik ladang ini dan maaf atas perlakuan kurang menyenangkanku tadi.”

Gadis itu sedikit membungkuk atas rasa bersalahnya. Di awal Joohyun memang merasa terganggu dengan kedatangan Kyuhyun. Joohyun hanya takut Kyuhyun akan mengacaukan konsentrasinya. Selain itu Joohyun juga tidak ingin ada yang tahu mengenai kegemaran tersembunyinya satu ini, melukis. Tapi ternyata hadirnya Kyuhyun membawa sebuah inspirasi. Dan dengan sadar menyelipkan sosok Kyuhyun dalam lukisannya.

“Haha, tidak apa. Aku memaklumimu, mungkin saja kau takut kedatanganku akan mengacaukan konsentrasimu, benar ‘kan?”

Si pemilik hazzle tertawa canggung, mengangguk kemudian. “Ya, kau benar.”

Kemudian mengangkat kanvas beserta penahannya menuju tempat dengan intensitas panas lebih tinggi. Sejenak, Joohyun diam menatap lukisannya. Ada senyum yang tergaris pada bibirnya, namun bukan senyum bangga. Melainkan senyum miris.

Tidak lama, dia berbalik menghampiri Kyuhyun. Mengajak pemuda itu menepi di bawah pohon rindang sambil menunggu lukisannya mengering.

“Sekarang, boleh aku tahu siapa dirimu?” Perbincangan dibuka dengan suara lembut Joohyun. Mereka terduduk berdampingan di bawah pohon.

“Hanya seorang musisi jalanan yang kebetulan melewati daerah ini.” Jawab Kyuhyun jujur.

“Musisi jalanan?”

“Heum. Belum lama ini aku menjadi musisi jalanan karena pembebasan tugas secara sepihak dengan alasan yang tidak logis pula. Ya, bisa dikatakan aku dipecat dari pekerjaanku secara tidak hormat karena ulah usil seseorang.”

Awalnya, Joohyun kira Kyuhyun hanyalah seorang tanpa pekerjaan yang hanya singgah sebentar karena melihat kehadirannya. Tapi ternyata pemuda itu menjadi seperti ini karena perbuatan seseorang. Joohyun menjadi simpati mendengar cerita cukup miris hidup Kyuhyun.

“Lalu orang tuamu?” sahut Joohyun asal yang sayangnya mendapat respon berupa kekeh kecil dari Kyuhyun. Kyuhyun tidak langusng menjawab. Hal ini membuat Joohyun merasa bersalah atas pertanyaannya. Ah, dia merasa begitu lancang. Si gadis hazzle menatap Kyuhyun, menggigit bibir gugup.

“Eum, maaf, tidak sepantasnya aku menanyakan hal seperti itu. Kau tidak perlu menjawabnya, Kyuhyun-ssi .”

“Tidak, tidak. Kau tenang saja, aku akan menjawabnya, Joohyun-ssi. Ayahku seorang pengusaha yang bergerak di bidang mable. Sedangkan ibuku mengurus sebuah butik.”

“Lalu kenapa kau tidak bekerja di tempat ayahmu saja?”

“Aku menolak. Aku bukan orang yang suka duduk di tempat.” Kedua bahu Kyuhyun mengedik, suatu gesture yang kurang Joohyun pahami maksudnya. “Aku kabur dari rumah dan menjadi seperti ini. Aku bukan robot dan aku tidak suka menjadi robot ayahku meski demi kebaikanku sendiri,” sejenak, Kyuhyun memandang Joohyun seraya tersenyum tipis. “Beliau menginginkan kesuksesan untukku, tapi beliau tidak tahu arti kesuksesan yang sebenarnya untukku. Bagiku, sukses bukan ditentukan dari jabatan dan jumlah gaji yang diperoleh. Sukses yang sebenarnya adalah ketika kita dapat meraih serta menggenggam mimpi kita yang sesungguhnya dan aku ingin meraih kesuksesan tersebut. Aku ingin menjadi seorang composer.”

Joohyun terdiam tanpa kedip. Apa yang Kyuhyun ceritakan benar-benar membuat Joohyun larut dalam kenangannya. Dia seperti merasakan apa yang sedang Kyuhyun rasa. Seperti ada ikatan tidak kasat mata yang sengaja mempertemukan mereka.

“Tapi, bukan berarti orang yang tidak dapat menggapai mimpinya merupakan orang yang gagal.” Lanjut Kyuhyun menatap Joohyun.

Tanpa sadar, jemari Joohyun bergerak menggapai jemari Kyuhyun. Menggenggamnya, mengusapnya tanpa sedikitpun mengurangi kadar senyum di bibirnya. Kyuhyun sendiri hanya mampu diam merasakan kelembutan tangan Joohyun.

“Kita sama.” Gumam Joohyun, lagi-lagi tanpa disadarinya.

Jutaan ribu volt listrik seolah menyengat ketika Joohyun sadar dengan apa yang baru saja diucapkan sekaligus apa yang jari lancangnya lakukan. Secepat kilat Joohyun menarik tangannya, membuang pandang lantaran merasakan kedua pipinya memanas.

Canggung melanda.

“Sebenarnya aku ingin menyanyikan sebuah lagu untukmu, tapi kurasa saat ini tidak bisa. Kalau berkenan, datanglah ke tempatku. Akan kutunjukkan indahnya dunia luar yang sesungguhnya.”

Tubuh Joohyun terasa kaku saat Kyuhyun mengambil ancang-ancang untuk pergi. Joohyun kehilangan suara untuk berbicara, mencegah Kyuhyun agar tetap tinggal bersama selama beberapa menit kedepan.

Dia hanya bisa melihat punggung Kyuhyun yang secara bertahap mengecil, nyaris menyerupai noktah sebelum akhirnya lenyap dalam sudut pandang. Dan –lagi, Joohyun hanya bisa mengela napas berat seberat-beratnya mengingat pertemuan singkat penuh makna dengan si musisi jalan bernama lengkap Cho Kyuhyun.

“Aku akan datang, pasti.”

***

Satu minggu berselang, entah bagaimana caranya, Joohyun juga tidak tahu. Tiba-tiba saja saat membuka jendela pagi tadi, dia mendapati sepucuk surat terselip pada celah jendela.

Surat tersebut sempat jatuh di atas rerumputan taman dan dengan heboh Joohyun segera menyuruh Young Ae untuk mengambilnya. Surat berisi sebuah alamat tersebut berasal dari Kyuhyun. Musisi jalanan yang selama satu minggu belakangan ini menganggu hidup Joohyun. Apapun yang sedang bangsawan Seo itu lakukan, pasti bayang wajah Kyuhyun terkenang.

Jujur, hal ini menyiksanya lantaran selama ini Joohyun tidak pernah merasa seperti ini. Ini merupakan kali pertama dalam hidupnya, dimana jantungnya bekerja abnormal tiap kali mengingat Kyuhyun. Selain itu wajahnya juga berubah berseri dengan rona merah tak kunjung hilang.

Terhitung baru pertama kali mereka bertemu, tapi Joohyun rasa, dia sudah menyimpan rasa pada pemuda itu. Oh, jadi seperti ini rasanya jatuh cinta.

Hidup di bawah tekanan sang ayah membuat perasaan Joohyun sedikit menumpul. Yang selama ini dikenal hanya berkas dan berkas serta beberapa laki-laki berumur yang tentu merupakan kolega bisnis keluarga dan, oh, jangan lupakan beberapa karyawan bergender laki-laki di kantor. Hanya mereka yang selama ini Joohyun kenal dan berkat kehadiran Kyuhyun, perasaan Joohyun kembali terasah.

Hidup Joohyun menjadi lebih berwarna sejak mengenal kata ‘cinta’.

Sebuah gaun putih selutut menjadi pilihan sang gadis bangsawan dipadu dengan polesan make up tipis serta lipstick maroon. Menampilkan pesona luar biasa dalam balutan keserdehanaan. Khas seorang Seo Joohyun.

Young Ae yang sejatinya mengamati gerak-gerik sang majikan turut tersenyum bahagia. Sudah lama Young Ae tidak melihat Joohyun sebahagia ini. Sepertinya manjikannya baru saja menemukan ‘sesuatu’ menarik di ladang hingga membuatnya seperti ini.

“Bagaimana?” suara Joohyun terdengar jernih, menunjukkan bagaimana keadaan hatinya.

“Seperti biasa, sangat cantik.” Tersenyum tidak kalah manis, Young Ae datang menghampiri.

“Sederhana, namun elegan. Sesuai karakter anda.” Imbuh Young Ae masih dalam kalimat memuji.

“Tapi…,” Mata Joohyun terfokus pada bibir Young Ae. Joohyun tahu, ada sedikit ‘keanehan’ dalam dirinya yang hendak Young Ae katakan. “Apa?” tuntut Joohyun penasaran.

Young Ae kembali tersenyum. “Tidak. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya mengenai apa yang membuat anda terlihat begitu bahagia seminggu belakangan ini. Apa anda baru saja menemukan suatu hal menarik di ladang? Karena menurut saya, perubahan sikap anda dimuali saat anda pulang dari ladang.”

Senyum bahagia Joohyun kian merekah, dia menubruk tubuh Young Ae dalam sebuah pelukan hangat. “Ya, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik.” Melepas pelukan, Joohyun kembali menatap Young Ae, masih dengan senyum lebar.

“Aku tidak bisa berlama-lama, aku harus segera pergi, sudah hampir terlambat.”

Young Ae mengangguk sekali. Tubuhnya menyerong mendukung gerak bola mata melihat kepergian Joohyun.

“Semoga tuan besar mengizinkan anda, nona.” Embus napas berat sarat akan keresahan Young Ae terdengar.

-o0o-

“Mau kemana, Joohyun?!”

Koran yang sedari tadi dibaca, tertutup pelan. Seo Jung Soo, melepas kacamata yang dikenakan guna memijat pangkal hidung lantas kembali memakainya.

Dia bangkit dari duduk, menghampiri Joohyun yang kini masih berdiri pada dua undukan tangga terbawah.

“Berdandan cantik malam-malam seperti ini, kau mau kemana? Apa yang membuatmu ingin pergi?” “Ada sesuatu yang harus kuselesaikan.”

“Mengenai?” Joohyun memutar bola mata jengah. Seutuhnya dia berdiri di hadapan sang ayah.

“Masalah ladang gandum kita, appa.” Dustanya.

“Aku tidak mendapatkan laporan dari Hyuk Jae mengenai adanya masalah di ladang gandum, jadi jangan berbohong padaku, Joohyun.” nadanya rendah, menekan, mengisyaratkan ketidaksukaan terhadap kebohongan yang Joohyun lakukan.

“Lantas, bila aku mengatakan tujuanku yang sebenarnya, apa appa akan mengijinkanku keluar?”

“Kau sudah tahu jawabannya.”

“Maka dari itu aku berbohong. Aku juga ingin seperti teman-temanku, merasakan apa yang mereka sebut dengan kehidupan. Selama ini, aku selalu menuruti keinginan appa, aku merelakan semua impianku demi appa, tapi apa yang appa lakukan?”

Joohyun menatap tidak kalah tajam pada sang ayah dengan napas memburu, tangannya terkepal erat menahan gejolak emosi.

“Setidaknya biarkan aku sekali saja merasakan hidup, appa. Se-ekor burung pun bisa merasa jenuh terus berada dalam kandang. Tidak ubahnya aku.”

“Seo Joohyun!” Seo Jung Soo membentak, nyaris melayangkan satu tamparan pada pipi mulus Joohyun. Namun gerakkan tangannya berhenti di udara ketika bibir Joohyun kembali berkata. “Karena sikap egois appa, Donghae Oppa pergi meninggalkan kita. Tapi aku bangga, Donghae Oppa mampu meraih kesuksesannya yang sesungguhnya, berbeda denganku yang hanya bisa tunduk dan patuh di bawah perintah appa. Jadi…, jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti aku melakukan hal yang sama dengan Donghae Oppa.”

Tangan Jung Soo yang masih menggantung di udara mengepal erat. Dia hanya mampu melihat tubuh Joohyun yang perlahan menghilang di balik pintu. Jauh dalam hati, Jung Soo juga merasa sakit.

Dia merasa kehilangan putra tunggal kebanggaannya yang memilih menanggalkan nama besar keluarga demi sebuah impian. Jung Soo merindukan putra sulungnya, sangat rindu. Satu fakta yang selama ini coba dia senyumbunyikan dari Joohyun.

Jung Soo sadar akan ke-egoisannya. Tapi sebuah ego dalam diri tetap membenarkan tindakannya selama tindakannya sendiri demi masa depan putra-putrinya.

‘Jangan pikir strata social selamanya bisa membuat kita bahagia, appa!’ satu kalimat dari Joohyun yang bercokol kuat dalam kepala Jung Soo.

“Cepat cari tahu, siapa yang membuat putriku menjadi seperti ini.”

Sambungan di tutup secara sepihak oleh Jung Soo. Bahkan ketika kata ‘hallo’ sebagai pembuka belum sempat diucap oleh lawan bicaranya.

***

“Ya, tunggu sebentar.”

Dari dalam, Kyuhyun berteriak. Dia berjalan meninggalkan beberapa anak di dekatnya yang memandang penuh tanya. Ketika pintu sepenuhnya terbuka. Tubuh Kyuhyun terhuyung beberapa centimeter kebelakang lantaran sebuah pelukan yang dia dapat.

“Joohyun?”

Kyuhyun menggumam, tangannya merayap membalas pelukan Joohyun. Mengusap pelan punggung sang gadis yang tengah menangis terisak.

“Tenanglah, aku ada di sini.”

Merasa sudut pakiannya ditarik, Kyuhyun melirik kebawah. Beberapa anak kecil tengah menjadikannya pusat dari sebuah lingkaran kecil. Kyuhyun mendesah, memberi isyarat jari agar anak-anak itu diam dan mengangguk ketika seorang anak mengacungkan jari, menuntut penjelasan nanti.

-o0o-

Joohyun menyesap kopi hangat diberikan Kyuhyun. Uap panas terlihat masih mengepul menyentuh permukaan wajahnya. Gadis itu menurunkan cangkir hingga sebatas dada lalu menatap sekelilingnya.

Mungkin, ada sekitar lima anak kecil yang mengelilinginya dengan pandang penuh tanda tanya. Kyuhyun juga ada di sana, tepat di samping Joohyun. Dia tersenyum kecil melihat tatapan penuh ketidakmengertian Joohyun terhadap anak-anak tersebut.

Si musisi jalanan menyeret bokong lebih dekat pada Joohyun. Meraih gelas kopi Joohyun lalu meletakkannya di atas meja.

“Mereka adalah anak-anak yang selama ini menemaniku.” Sontak Joohyun memandang Kyuhyun. Dahinya berkerut tebal, masih kurang mengerti dengan perkataan Kyuhyun.

“Anak-anak yang kutemukan di pinggir jalan. Daripada hidup seorang diri, lebih baik hidup bersama mereka. Setidaknya rumah ini tidak sepi, ada canda dan tawa bahkan tangis mereka yang mengisi hari-hariku.”

Sungguh, Joohyun begitu kagum dengan pemuda di sampingnya ini. Kyuhyun mampu memberontak demi mendapat kebebasan. Jauh dari itu, Kyuhyun ingin meraih kesuksesan sejatinya untuk menjadi composer. Disamping itu, Kyuhyun juga mampu menampung sekian banyak anak dan membiayai mereka.

Luar biasa! Sangat jarang ada pemuda seperti Kyuhyun. Sudah tampan, baik hati, pekerja keras, pecinta kebebasan, mampu menentukan arah langkahnya seorang diri dan masih banyak kelebihan lain.

Kalau begini caranya, siapa yang akan menolak pesona si musisi jalan? Sungguh, siapapun yang menjadi isteri seorang Cho Kyuhyun, maka dia adalah gadis beruntung, sangat beruntung dan diam-diam, Joohyun berharap bahwa gadis itu adalah dirinya.

“Ya, selama ini aku yang memasak makan makanan.” Seorang gadis kecil berkulit cukup gelap membuka suara. Tersenyum begitu manis ketika Joohyun menatapnya.

“Sedangkan aku mengurus kebun. Ada beberapa jenis sayuran yang kami tanam di sana.” Si pria kecil di samping gadis itu menyahut.

“Aku juga membantunya.” Kali ini, giliran bocah di samping Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum, segera meraih bahu kecil bocah itu kemudian mendekapnya. “Kalian anak-anak hebat.” Pujinya menatap satu persatu anak-anak.

“Kami semua saling membantu agar pekerjaan kami cepat selesai. Kata Kyuhyun hyung , itulah gunanya teman.” Si kecil kembali mengoceh dan Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya. “Bukan sekedar teman, tapi keluarga.” Kyuhyun membenarkan.

Mereka saling memandang, lima detik berselang tertawa bersama. Seolah tidak memiliki beban, hidup bebas. Dapat mengepakkan sayap lebar-lebar demi menyongsong langit, masa depan.

“Dan kalian tidak bersekolah?” Joohyun yang sedari tadi diam, kini bersuara. Netranya bergulir pada anak-anak.

“Tentu saja kami bersekolah, meski kami bersikeras tidak ingin bersekolah, Kyuhyun Oppa tetap menyuruh kami sekolah. Pernah suatu pagi ketika terbangun aku sudah berada di sekolah, tanpa baju seragam dan tentunya dengan wajah kusut.” Si gadis berkulit cukup gelap kembali bersuara. “Dan itu semua ulah Kyuhyun Oppa , sejak saat itu aku begitu rajin bersekolah. Sudah cukup satu kali saja aku ditertawakan oleh teman satu kelas.”

Gelak tawa kembali memenuhi ruangan usai si gadis kecil menuntaskan kalimatnya. Termasuk Joohyun yang diam-diam melirik Kyuhyun. Pria yang sedang menggaruk tengkuk, malu oleh cerita si gadis kecil.

“Tapi aku tahu Kyuhyun Oppa melakukannya karena menyayangiku, menyayangi kami semua.” Kyuhyun mendongak, menatap si gadis. Dia tersenyum sambil merentangkan tangan. “Ouh, Solji~ya, kemarilah. Peluk Oppa-mu ini.”

Senyum Joohyun kian tercetak jelas. Terlebih ketika tubuh kecil itu menubruk badan Kyuhyun. Saling berpelukan layaknya anak dan ayah. Alangkah indah dunia ini jikalau gadis itu merupakan putrinya bersama Kyuhyun.

Joohyun mengerjap cepat, tersadar oleh kenyataan pahit bahwa dia dan Kyuhyun tidak memiliki hubungan apapun selain sebatas teman. Jadi, berhenti berharap Joohyun! Si gadis bangsawan berdeham pelan, netranya kembali bergulir, menyapu sekitar.

Rumah Kyuhyun memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Cukup untuk mereka berenam tinggal. Di sini, Joohyun bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, meski bukan keluarga kandung. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan di rumah.

Gelak tawa, peluk hangat, percakapan ringan serta hal lain. Di rumah, hanya ada gumpalan emosi yang sekuat tenaga ditahan karena ulah se-enak hati sang ayah yang hanya bisa menyuruh dan mendekte dari kejauhan. Memuakkan!

“Nah, karena tamu special kita ini belum makan, sebaiknya kalian membuatkannya makan, kita makan bersama. Sementara aku akan menemaninya melihat sekitar, bagaimana?”

Ke-lima anak itu mengangguk dalam tempo hampir sama. Bergegas malakukan apa yang Kyuhyun perintahkan dengan berlomba lari menuju dapur. Berebut celemek sebelum akhirnya mambagi tugas. Sementara Kyuhyun mengajak Joohyun keluar rumah. Berjalan di sekeliling.

“Eum…, apa aku boleh bertanya mengenai sebab mengapa kau menangis tadi?” pertama, Kyuhyun membuka dialog. Disambut desah berat napas Joohyun.

“Aku bertengkar dengan ayahku sebelum datang kemari.”

“Apa?!” Kyuhyun yakin bahwa mungkin dia sedikit berlebihan dengan nada bicaranya. Tapi sungguh, Kyuhyun memang benar-benar terkejut.

“Tap-tapi kenapa kalian sampai bertengkar? Kesalah apa yang kau lakukan pada ayahmu, Joohyun?”

“Menentangnya, sama seperti apa yang kau dan kakakku lakukan.” Hati Kyuhyun seperti tertampar oleh perkataan Joohyun. Membuat bibirnya terkatup rapat.

“Aku lelah hidup sebagai robot pesuruh yang selalu patuh pada tuannya. Semua perintah ayah sudah kupatuhi, mulai dari berhenti sekolah ballerina, menjadi pianis, pun, ketika beliau menyuruh untuk membakar semua lukisan yang pernah kubuat. Terakhir, ayah memintaku menjadi pebisnis handal dan aku pun melaksanakannya. Siapa yang tidak mengenal Seo Joohyun. Si pengusaha muda yang terkenal dengan segala keramah tamahannya. Dan semua ini tidak lebih karena strata social. Demi darah bangsawan yang mengalir dalam nadi kami.”

Langkah Joohyun memelan sebelum akhirnya terhenti sempurna. Secara spontan, Kyuhyun melakukan hal serupa. Berdiri sejajar dengan Joohyun yang sedang merunduk, menyembunyikan perih.

“Tapi sejak bertemu denganmu, aku merasa berbeda. Seperti bisa merasakan bagaimana rasanya hidup serta dunia luar, bebas.”

“Jadi, karena itu kau bertengkar dengan ayahmu?” Kyuhyun yang sedari tadi diam mendengarkan, kini membuka suara. Joohyun mengangguk. “Kau bebas. Kau seperti cahaya dalam lukisanku, sebuah titik terang yang bisa merubah kehidupanku.”

Dahi Kyuhyun sempat mengernyit, beberapa detik kemudian dia mulai paham apa yang dimaksud oleh Joohyun. Lukisannya sore itu. Semua yang terangkum dalam lukisan itu merupakan bentuk kehidupan Joohyun.

Peperangan, berkisah mengenai sang kakak yang menentang ayahnya hingga berakhir dengan hilangnya darah, nyawa –marga kehidupan nyata. Dan sosok gadis kecil yang terperangkap dalam rumah tersebut tidak lain adalah Joohyun sendiri. Dalam ketidak berdayaannya, dia hanya berharap semoga bisa terbang bebas seperti beberapa burung yang berterbangan menuju sumber cahaya, kebebasan.

Sungguh, Joohyun adalah pelukis handal nan cerdik dengan mengolah ilustrasi mengenai emosi dalam bentuk sedekian rupa.

Namun pada detik berikutnya, segala kekaguman Kyuhyun lenyap, berubah menjadi erangan kecil dengan sebelah tangan, mengusap wajah frustasi.

“Ya Tuhan, kenapa kau bisa sebegini kekanakan, Joohyun? Aku jadi merasa bersalah terhadap ayahmu.” Ungkap si pemuda bersurai lebat.

“Maksudmu?”

“Kau sangat mengetahui maksudku, Joohyun.”

“Jadi kau juga berniat terus mengurungku dalam sangkar?” Menggeleng keras, Kyuhyun menyentuh kedua pundak Joohyun.

“Dengar, aku mendukungmu, tentu saja. Kau juga berhak mendapat kebebasan, sama halnya denganku maupun kakakmu. Tapi kondisimu berbeda denganku juga kakakmu dulu.” Kyuhyun mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan. “Dulu saat kami memberontak, menolak perintah ayah kami sebelum melakukan apapun yang diperintahkan. Secara tidak langsung saat itu kami masih belum memiliki tanggung jawab, kami masih bebas, berbeda denganmu. Kau ingin memberontak disaat semua tanggung jawab sudah berada di pundakmu. Ada ratusan bahkan ribuan pegawai yang kehidupannya bergantung padamu, pada maju atau tidaknya perusahaan serta segala usahamu.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataanmu.” Ujar Joohyun seraya menggeleng.

“Kau mengerti. Aku yakin kau mengerti, Joohyun.”

Detik merayap lambat. Terisi oleh keheningan sesaat.

“Lihatlah dirimu saat ini, begitu cantik, anggun dengan segudang tatakrama yang tidak diragukan lagi, berwawasan luas, pandai bermain piano, menjadi seorang pebisnis muda luar biasa, bahkan menjadi pelukis handal tanpa banyak orang kehaui. Dan kau tahu semua ini berkat siapa? Semua ini berkat ke-egoisan ayahmu. Berkat ke-egoisannya menyelipkan kebahagiaan –tanpa kau sadari yang melebur dalam emosimu. Semua ini membuktikan bahwa tidak selamanya hal negative melahirkan kenegative-an pula, tidak melulu harus dipandang sebelah mata.”

Tidak ada yang keluar dari bibir Joohyun. Dia diam. Merenungkan dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Kyuhyun. Dia terlambat dalam mengambil tindakan. Bila dia masih kukuh dengan pendirian ingin lepas dari sangkar, maka nasib para pegawai yang menjadi taruhan. Dan jelas Joohyun tidak akan tega melakukannya.

Gadis itu kian merunduk, meremat kuat sudut pakaiannya. “Tapi aku ingin merasakan kebebasan.” Cicitnya begitu lirih. Kyuhyun tersenyum kecil.

“Suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkannya, aku yakin. Tapi sungguh, aku bernar-benar kecewa dengan sikap kekanakanmu ini, Joohyun.”

“Memangnya kenapa?”

“Coba pikirkan, bagaimana pendapat ayahmu tentangku. Seorang pria yang secara terang-terangan telah mempengaruhi putrinya untuk bertindak buruk, padahal aku tidak pernah bermaksud demikian. Beliau pasti memandangku sebelah mata. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa melamarmu untuk menjadi pendamping hidup? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”

Mata Joohyun mengerjap cepat. Apa-apaan ini?

“Kau!”

Joohyun mendelik garang. Genangan dipelupuk mata menguap entah kemana. Bara api emosi padam, menghilang tanpa jejak. Kyuhyun berhasil membuatnya tersenyum disaat seperti ini.

“Jadi nanti, ketika pulang. Meminta maaflah pada ayahmu dan berbicara baik-baik, sampaikan juga rasa bersalahku pada beliau. Karena sekeras apapun seorang ayah pasti akan luluh dengan anaknya sendiri. Apalagi saat ini hanya kau seorang yang berada di samping ayahmu. Ya?”

Joohyun merengut, meski demikian tetap memeluk tubuh Kyuhyun erat. Menenggelamkan wajah pada lekuk dada Kyuhyun. Menghirap rakus aroma maskulin si musisi jalanan.

“Hei Kyuhyun.”

“Apa?”

“Bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu?” Kedua bahu Kyuhyun mengedik. “Mengenai itu, bisa kita bahas nanti. Sekarang mari kita pulang, cacing pita dalam perutku sudah berdemo meminta jatah.”

Lalu keduanya kembali ke rumah Kyuhyun. Makan bersama ke-lima anak asuh Kyuhyun. Melakukan kegiatan yang tidak pernah Joohyun lakukan sebelum ini. Menari bersama, bernyanyi bersama, bercerita bersama, terawa bersama dan yang terpenting bahagia bersama.

Kyuhyun sudah memenuhi janjinya, menunjukkan bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Yang tidak pernah Joohyun rasa selama berada dalam sangkar emas. Kebahagiaan tidak memerlukan kemewahan, cukup keserhanaan asalkan bermakna.

***

Pagi ini, Kyuhyun dibangunkan oleh suara ketukan pintu. Kyuhyun membuka pintu dan mendapati seorang lelaki dengan kacamata minus berantai tengah berdiri membelakangi pintu. Jemari lelaki itu saling terkait di belakang tubuh.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Sosok itu menoleh, menatap lurus Kyuhyun. Mengamati dari ujung kaki sampai ujung kepala. Merasa risih, Kyuhyun kembali mengulang pertanyaan. “Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?”

“Aku yakin kau adalah Kyuhyun. Jadi, bisakah kita berbicara sebentar?”

Kyuhyun tidak merespon cepat. Berdiam diri selama beberapa detik menjadi pilihannya. Menimang jawaban apa yang pantas dia beri. Meng-iyakan ataukah justru menolak?

***

“Kau? Benarkah itu kau, nak?”

Tersenyum lembut, Kyuhyun kembali melangkah menghampiri sambil mengangguk. “Aku pulang, eomma.” Katanya.

Tangis rindu sang ibu pecah. Dengan segera dia berlari menyongsong siuet sang putra, membuang selang air di tangannya asal. Memeluk erat Kyuhyun, menumpahkan tangis pada perpotongan leher Kyuhyun.

“Kau kemana saja sayang? Kami merindukanmu, sangat merindukanmu.” Ibu Kyuhyun melepas pelukannya, mengamati tubuh Kyuhyun. “Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Sekarang ayo kita masuk, mandilah selagi eomma menyiapkan makanan. Hn?”

“Tolong buat dalam porsi besar. Setidaknya cukup untuk lima sampai enam orang. Eomma mau, ‘kan?”

Tanpa pikir panjang, sang ibu mengangguk. Menggiring Kyuhyun masuk dengan senyum penuh, senyum yang selama enam tahun ini hilang. Rupanya, di ambang pintu sang ayah juga menyambut. Sama seperti sang ibu, sudut mata ayahnya terlihat berair.

“Anakku. Kau kembali.”

Siang ini, untuk kedua kali Kyuhyun mendapat dua peluk rindu dari orang terkasih. Orang paling berjasa dalam hidupnya yang pernah dia sia-siakan.

“Maafkan aku, tidak seharunya aku membangkang pada appa dan eomma demi menggapai impianku. Sekali lagi aku meminta maaf karena sampai saat ini aku masih belum bisa memenuhi keinginan kalian untuk mengurus perusahaan, appa.” Sang kepala keluarga memukul kepala Kyuhyun pelan. “Bodoh!” umpatnya ditengah isak tangis.

“Kenapa harus meminta maaf pada orang yang salah, huh? Seharusnya ayahmu ini yang meminta maaf karena hampir saja merenggut impian putranya sendiri.” jarak tercipta. “Tapi sekarang ayah lega karena kau sudah kembali. Selamat datang kembali di rumah ini, Kyuhyun.”

“Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, kali ini saja, bisakah ayah mengabulkannya?”

“Ayah janji akan mengabulkannya.”

TBC or END tergantung respon 😊😊 covernya nyusul, ini lagi OTW dibikinin xD.

Advertisements

22 thoughts on “Strata

  1. next…next…next…. itu si bapak² siapa ye?? penasaran, dua sejoli bakal bisa bersatu kagak yee… dan si donghae kemana yaaaa kok menghilang tanpa jejak gitu… Next thorrrr SEMANGAT NULISNYA…

    Like

  2. Lagi asik-asik baca ehh tbc
    Kira” apa ya yang diminta kyu sama appa nya??
    Semoga seokyu bersatu….

    Ditunggu ya author kelanjutannya, fighting!!

    Like

  3. kayak’a seru ff’a.. itu kyuoppa jangan” mau ngeboyong lima anak” yg dia rawat ya makan’a mau minta ijin appa cho.. Mungkin kebahagian seo eonni ada sama kyuoppa ya
    Next

    Like

leave a comment^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s