DALAM DIAM ~Oneshoot~

Dalam diam.

Aku hanya bisa memandanginya.

Dalam diam.

Aku hanya bisa mengaguminya.

Dalam diam.

Aku hanya bisa mencintainya.

Dalam diam.

Aku berharap agar dia juga merasakan apa yang aku rasa.

Dalam diam.

Aku tahu bahwa semua hanya akan menjadi angan.

Dalam diam.

Aku menyembunyikan dan kehilangan segalanya.

Story by Celvi_SparKyu.

img-20170107-wa0001

.

.

.

.

Dulu, kami bertetangga. Rumah kami hanya berbatas taman kecil milik keluarganya. Setiap sore dia selalu keluar dari rumah sekedar menyiram tanamannya. Bibirnya tidak pernah berhenti mengeluarkan suara. Entah itu nyanyian ataupun suara bising sejenisnya.

Keceriannya menarik perhatianku. Dari balik kaca jendela ruang kamar yang berada di lantai dua, secara diam-diam aku sering memperhatikannya. Bukan satu dua kali dia memergokiku sedang memandangnya.

Saat aku mengira dia akan bersungut kesal dan kembali ke dalam rumah, ternyata aku keliru. Tidak sedikitpun dia menampakkan gerak-gerik ketidaksukaannya terhadapku. Sebaliknya, dia justru melambai dan berteriak.

“Kyuhyun Oppa, kemarilah. Ayo menyiram kebun bunga milikku.” Diiringi sebuah senyum yang entah mengapa membuat jantungku berdegup kencang.

Oppa kan jarang keluar, sekali-kali bermain bersamaku tidak ada salahnya ‘kan?” kepalanya sedikit meneleng, wajahnya terlihat lucu dengan kedua mata mengerjap imut. “Kyuhyun Oppa?” bibirnya kembali menyebut namaku.

Aku masih memandangnya, namun sama sekali tidak menyahut.

“Tidak mau ya? Atau Oppa sedang sibuk?” Raut wajahnya berubah, sedih. “Kalau begitu besok saja kita menyiram tanaman ini bersama.”

“Sampai ketemu besok, Oppa. Jangan kangen, ya?” dia terkikik geli. Setelah itu berbalik sambil menenteng peralatan menyiramnya. Masuk ke dalam rumah dan menyisakan kerinduan.

Malam berlalu, rembulan menyingsing dan mentari mulai menampakkan jati diri. Niatku sudah bulat untuk menemui Joohyun. Berhubung ini adalah hari minggu jadi kurasa tidak ada salahnya untuk menemuinya di pagi hari. Mengajaknya joging atau sekedar mengakrabkan diri.

Tapi ternyata aku terlambat. Menurut Kim ahjussi yang kebetulan sedang menyapu latar pekarangan, keluarga Seo pindah sekitar pukul empat pagi. Aku bertanya ke mana mereka pindah tapi ahjussi menggeleng.

“Maaf tuan muda, aku tidak tahu kemana mereka pergi.”

Setelah itu, aku mengecap Joohyun sebagai penjahat. Penjahat ulung yang pantas mendapat ganjaran saat kami bertemu dikemudian hari nanti karena setelah lima tahun berlalu, aku masih saja mencintainya.

Sesosok gadis kecil yang waktu itu masih berusia 12 tahun, sama denganku.

.

Dalam Diam.

.

“Aku yakin kau pasti menyesal!”

“Salah sendiri menghabiskan waktu di dalam UKS terlalu lama, jadinya kau tidak bisa melihat si murid baru itu.”

“Lalu?” Aku menyahut malas.

“Sudah kubilang menyesal. Lalu menyesal. Me-nye-sal!” Hyuk Jae mengeja kata terakhirnya tepat di depan wajahku. “Ya Tuhan, rasanya percuma bicara dengamu, Kyuhyun.” Dia menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Ah, bagaimana kalau kita bermain saja? Game center maksudku.” Hyuk Jae kembali bersuara.

“Benar, benar.” Donghae mengangguk. “Aku setuju.” Lalu mereka berdua memandangku yang masih diam bergeming sambil memainkan ponsel.

“Kyu?” Hyuk Jae menyebut namaku.

“Ayolah kawan, hanya sebentar. Tidak sampai 10 menit.” Dia meringis saat Donghae menoyor kepalanya.

“Mana ada main game kurang dari 10 menit, pintar?!”

Donghae memandangku lalu mendesah. “Kalau kau tidak ingin ikut bersama kami juga tidak masalah, Kyu.” Lalu melirik jam dan luar kelas. “Sudah sore dan sepertinya akan turun hujan, lebih baik kau segera pulang.”

Aku mengangguk dan bangkit. Meraih tas selempang dan meninggalkan kelas. Berjalan menuju parkiran.

Tempat itu sudah sepi. Motor juga mobil yang terparkir hanya tinggal beberapa. Salah satunya adalah motorku dan mobil Hyuk Jae hyung. Setelah memakai helm full face aku segera menancap gas. Membelah jalanan dengan kecepatan standar dan berhenti ketika rambu lalu lintas berwarna merah.

Aku sempat mengumpat, pasalnya jarum langit sudah mulai berjatuhan. Udara juga kian menusuk kulit dan dalam hitungan detik, hujan mengguyur.

“Sial!” Umpatku seraya mengedarkan pandang. Setidaknya aku harus mencari tempat berteduh sebelum seragamku basah kuyup.

Klakson mobil terdengar bersahutan saat lampu berwarna hijau. Segera aku menancap gas dan memilih halte bus terdekat sebagai tempat berteduh. Tidak banyak orang di sana. Suatu keadaan yang kusukai.

Aku bukan golongan anti sosial, hanya saja aku kurang menyukai keramaian yang membuat gendang telinga berdengung sakit.

Ponselku bergetar, panggilan dari Siwon hyung.

“Kyu? Kau dimana? Sudah pulang?”

“Hujan.”

Jinjja? Apa perlu aku menyuruh orang untuk menjemputmu? Dimana kau sekarang?”

Aku berdecak. “Aku sudah besar, jangan berlebihan.”

“Tapi bagaiamana kalau-

“Hn.”

“Astaga Kyuhyun.” Dari nada bicaranya aku tahu Siwon hyung merasa kesal.

“Aku tutup.” Dan panggilan berakhir.

Aku hampir duduk saat suara petir terdengar beriringan dengan sebuah pekikan. Sontak aku mengedarkan pandang dan menemukan seseorang sedang berjongkok di sudut kursi dengan kedua tangan menutup telinga.

Seragam yang dia kenakan mirip dengan seragamku. Atau jangan-jangan dia seorang temanku?

“Aa!!!”

Dia kembali memekik saat petir kembali terdengar, kali ini tubuh ya bergetar. Aku turut berjongkok di depannya. Memandangnya penuh. Seakan mengenali gadis ini.

“Nona?” Sebelah tanganku terangkat coba menyentuhnya namun urung, tanganku mengambang di udara.

“Aku takut.” Lirihnya dengan suara bergetar.

“Nona?” Perlahan dia mendongak dan membuatku terkejut. Aku nyaris berteriak andai tidak bisa mengontrol emosi.

“Aku takut.” Dia kembali bergumam.

“Guntur itu, bisakah kau menghentikannya?”

“Maaf.”

“Aku tidak bisa.” Wajahnya terlihat murung dan dia kembali menenggelamkan wajah pada lutut serta menutup telinga rapat-rapat.

“Tapi mungkin aku bisa mengurangi ketakutanmu.”

Segera dia kembali mendongak dengan mata cukup berbinar. “Benarkah?”

“Aku tidak yakin sebenarnya.”

Sebuah benda kukeluarkan dari kantung celana dan memasangkannya pada kedua telinganya, setelah itu menyambungkan dengan ponsel lalu memutar sebuah lagu.

“Terimakasih.”

Seharusnya aku yang berterimakasih. Bukan padamu, melainkan pada Tuhan karena telah mempertemukanku denganmu kembali, Joohyun. Meskipun mungkin kau tidak mengenalku. Lagipula siapa aku sehingga kau harus mengingatku, benar bukan?

***

Keesokan hari, kelas dibuat gaduh dengan tindakan Hyuk Jae. Dia bersimpuh di depan seorang gadis sambil mengulurkan bunga.

“Ambil berarti terima dan biarkan berarti tolak.” Begitu katanya.

“Terima!”

“Dia masih murid baru, ini terlalu mendadak untuknya.”

Jadi dia murid baru itu?

“Hyuk Jae~ya berhenti mempermainkan seorang gadis.”

“Tapi kalau dia juga suka tidak masalah, sih.”

Serta perkataan lain dengan inti serupa.

Posisi gadis itu membelakangi pintu masuk. Jadi aku tidak tahu bagaimana rupa murid baru itu. Dengan santai aku berjalan dan duduk di bangkuku. Mengeluarkan headset dan memakainya andai tidak mendengar suara itu.

“Aku akan mengambilnya tapi bukan berati menerima. Sayang kalau setelah ini bunga ini akan masuk ke dalam tempat sampah. Aku menyukai bunga ini tapi tidak menyukaimu. Maaf.”

Kelas mendadak hening. Gadis itu menoleh ke arahku dengan sebuah senyum. Aku sempat mengerjap dan merasa malu. Terlebih ketika dia berjalan dengan riang menghampiriku.

“Kyuhyun?”

Demi Tuhan, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya mengekspresikan rasa senang. Joohyun, gadis itu sudah mengingatku rupanya.

“Jadi namamu Kyuhyun, ya? Hehe, maaf aku membaca nametag-mu lancang. Habisnya kemarin kita belum sempat berkenalan.”

Dan kalian tahu sendiri bagaimana perasaanku.

“Perkenalkan, namaku Joohyun, Seo Joohyun. Senang berkenalan denganmu, Kyuhyun-ssi.”

Aku sempat melihat depan dan mendapati Hyuk Jae sedang menatap kami, tapi dia tidak terlihat marah. Entah mengapa dia justru mengangguk.

“Cho Kyuhyun.”

Dia duduk di sampingku. Menyimpan tas ranselnya di atas meja dan menatapku. Masih dengan senyum manis yang terkembang.

“Kau tahu? Kebetulan sekali kita duduk bersebelahan. Nanti kalau ada materi yang kurang bisa aku pahami, tolong ajarkan aku, ya? Sebelumnya terimakasih.”

“Hn.”

“Oh ya, tentang kemarin sore,” jeda sejenak. “Aku benar-benar mengucapkan terimakasih, berkatmu aku jadi tidak terlalu mendengar petir itu.”

Joohyun mendekat dan aku kembali di buat bisu oleh tindakannya. “Jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku ini takut petir.” Bisiknya.

Aku hanya bisa mengangguk kaku. Selama lima tahun belakangan ini, ternyata tidak banyak yang berubah. Termasuk pribadi seorang Seo Joohyun. Sampai detik ini dia masih tetap seorang gadis tengil tanpa rasa malu ataupun canggung. Menggemaskan!

Dan kurasa, perkataan Hyuk Jae kemarin benar adanya. Aku akan menyesal karena tidak tahu siapa murid baru itu. Orang yang ternyata adalah penjahat kecil yang kini menjelma menjadi dewi Athena.

Sungguh elok rupamu, Joohyun.

***

Ice cream?”

Aku menoleh dengan dahi mengernyit.

“Aku ingin Ice cream, Kyuhyun. Kita beli ya?”

“Tapi aku harus segera pulang.” Ujarku sambil melihat arlogi. Tadi pagi aku sudah janji pada Ibu bahwa sepulang sekolah aku akan segera pulang. Selain itu sebenarnya aku juga sangat mengantuk karena selama, sebagian besar waktu tidurku habis untuk bertanding game bersama Soora. Keponakan ayah yang kebetulan menginap.

“Ayolah,” rengeknya mengerucutkan bibir. “Sekali ini saja.” Dia mengerjapkan matanya. Benar-benar membuatku ingin sekali mencubit pipi gembilnya.

“Ya ya ya?”

Mendesah pelan, kepalaku mengangguk. Joohyun berjingkrak senang.

“Joo sayang Kyuhyun. Muaacchh!!”

Untuk sesaat aku kembali dibuat tertegun oleh ucapannya.

“Bi, Ice cream rasa strawberry dua, ya?” terikanya ketika kami baru saja sampai di kedai ice cream dekat dengan sekolahan.

“Siap nona!” sahut Bibi penjual ice cream dari dalam.

Kami duduk di bawah pohon cukup rindang memunggungi jalan raya. Tidak lama kemudian Bibi penjual ice cream datang bersama pesanan kami. Dia menghidangkannya sambil sesekali menjahili kami yang dia kira sepasang kekasih.

Joohyun tidak terlihat marah ataupun kesal, dia justru menanggapi lontaran kalimat jahil Bibi itu dengan guyonan serupa. Kesimpulannya, Joohyun sama sekali tidak berubah, kecuali mengenai fakta bahwa dia tidak mengenalku. Tapi tidak masalah, asalkan dia bersamaku dan berada di sisiku itu lebih dari cukup.

Mungkin?

“Huh kenyangnya.” Joohyun berkata sambil mengusap perut dan bersandar pada kursi. Jelas saja, dia menghabiskan tiga mangkuk ice cream rasa strawberry plus tambahan milikku meski hanya setengah.

“Kyuhyun, rasanya aku tidak bisa berdiri.” Ocehnya. “Perutku sakit, rasanya penuh.” Keluhnya.

“Salah sendiri rakus.” Komentarku.

Joohyun melirik padaku. “Mumpung ditraktir.” Katanya lalu tertawa.

Aku hanya menggelengkan kepala lalu berdiri. “Ayo.”

Joohyun menatapku dengan dahi berkerut. “Kemana?”

“Pulang.”

“Tidak.” Dia menggeleng. “Kau pulang saja, eomma akan menyusulku.”

“Sungguh?” Joohyun mengangguk.

“Lagipula kakiku masih terasa lemas, perutku juga masih penuh. Kesimpulannya aku belum bisa pulang sekarang, kau duluan saja.”

Aku mengangguk paham. “Kalau begitu aku pamit dulu.”

“Hati-hati ya! Ngomong-ngomong terimasih ice cream-nya.” Katanya sedikit berteriak. “Lain kali traktir lagi ya?”

Aku hanya tersenyum dan kembali ke sekolah karena sebenarnya motor beserta helm-ku masih berada di sana. Joohyun tadi menolak ajakanku untuk mengendarai motor. Katanya lebih baik berjalan kaki karena dekat. Irit bensin.

“Pulang kencan, eh?”

Suara Hyuk Jae terdengar menyidir dari dalam mobil Donghae yang kebetulan masih terparkir.

“Sepertinya kau mengenal Joohyun cukup baik, Kyuhyun.” kata Donghae.

Sementara aku mengedikkan bahu. “Tidak juga.” Lalu memakai helm. “Aku pulang dulu.” pamitku.

Hyuk Jae mencibir. “Pajak jadian jangan lupa, bro.”

Aku sama sekali tidak menanggapi kalimatnya dan memilih melajukan motor ini membelah jalanan menuju rumah dengan perasaan bahagia. Satu hari ini, aku menghabiskan banyak waktu bersama Joohyun. Dan semoga saja akan terus seperti itu sampai aku memiliki keberanian lebih untuk mengungkapkan perasaan padanya.

***

Selama dua bulan ini hubunganku dengan Joohyun semakin mendekat. Kami sering keluar bersama, menghabiskan waktu bersama, belajar bersama dan melakkan hal yang lain bersama-sama. Sampai-sampai dua sahabatku, Hyuk Jae dan Donghae berkomentar atas perubahan sikapku.

Kyuhyun si bisu, si antisosial dan maniak buku berubah menjadi sosok cerewet saat berada di dekat Seo Joohyun. Seperti saat ini, dimulai saat jam pelajaran kosong aku terus saja berbincang dengan Joohyun. Berbagai hal kami bahas, dari yang penting sampai yang tidak penting.

“Memangnya kenapa kakakmu begitu over protective padamu?”

“Saat kelas IX aku pernah mengalami kecelakaan, menurut dokter kemungkinanku untuk hidup hanya beberapa persen. Bisa bertahan jika Tuhan memberi mukjizat.”

“Dan tuhan benar-benar memberimu mukjizat.”

Kami duduk di depan kelas pada bangku panjang yang memang sudah lama berada di sana. Kedua kaki Joohyun berayun pelan.

“Hn,”

“Sejak saat itu kedua orang tua serta kakakku berubah menjadi over protective. Dan jujur, aku kurang menyukainya.” Akuku.

“Tapi tindakan mereka semata-mata hanya tidak ingin hal buruk terjadi lagi padamu, mereka benar-benar menyayangimu.”

“Hn.” Anggukku.

“Oh ya Kyuhyun, aku sering bercerita tentangmu pada ibu. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Kapan-kapan main ya ke rumahku.”

Kami saling berpandangan tanpa disengaja. Lalu aku langsung membuang pandang karena tidak sanggup menatap terlalu lama wajah dewi ini. Aku takut tidak bisa mengontrol diri dan memeluknya tanpa sadar.

“Hn, kalau ada waktu.”

“Janji, ya?”

Tersenyum samar, aku menautkan jari melengkung kami. “Tapi kau juga harus bermain ke rumahku.”

“Itu pasti!”

Tiba-tiba Joohyun menepuk jidatnya sambil meringis seperti mengingat sesuatu. Sesaat kemudian dia menatapku dengan cengiran lebar hingga membuat sudut-sudut matanya menyipit.

“Kenapa?”

“Hehe.” Dia tersenyum kikuk. “Aku melupakan sesuatu. Maaf ya Kyuhyun, aku pergi dulu.”

“Daaahhh!!” Aku hanya tersenyum sebagai balasan lambaian tangannya.

Tidak lama berselang sebuah tangan mengalung di leherku, tubuhku juga sedikit terhuyung kedepan. Setelah itu sebuah jitakan mampir di kepalaku.

“Dasar perebut!” Itu suara Hyuk Jae, dia yang menjitak kepalaku.

“Jadi kalian benar-benar berpacaran?” tanya Hyuk Jae. “Sejak saat pertama kenalan waktu itu?”

“Kedai ice cream?” Wajah Hyuk Jae terlihat kurang yakin saat mengatakannya.

“Sepertinya dia menyukaimu Kyuhyun.” sambung Donghae. Dia duduk di samping kiriku sementara Hyuk Jae di samping kananku.

“Kau itu bicara apa, hyung? Siapa yang berpacaran, heum? Seingatku kau juga pernah memintanya menjadi pacarmu, hyung.” lalu melirik Donghae yang tadi juga sempat berkata. “Benarkah?” tanggapku sekenanya. Meski dalam hati berbunga bahagia.

Hyuk Jae tergelak kencang. “Yang waktu itu?” Aku mengangguk.

“Bagaimana ya?” Dia menggaruk kepalanya. “Sebenarnya waktu itu aku hanya sedang berlatih drama, kau tahu sendiri aku mengikuti ekskul teater.”

Begitu lekat aku menatap Hyuk Jae. Sebenarnya sudah lama aku ingin bertanya mengenai hal ini. Memastikan apa benar Hyuk Jae menyukai Joohyun atau tidak. Pasalnya jika benar Hyuk Jae menyukai Joohyun mungkin aku akan mengalah. Aku tidak ingin mempertaruhkan persahabatan kami hanya karena seorang perempuan.

Jinjja?” Tanya Donghae dengan nada penuh selidik.

“Untuk apa aku berbohong, lagipula sejak saat itu aku menjadi cukup terkenal, menjadi hot topik pula selama beberapa hari.”

“Tapi…,” Hyuk Jae dan tentunya aku segera menoleh pada Donghae yang berseru. “Seandainya, kalau benar Hyuk Jae mencintai Joohyun, apa yang akan kau lakukan Kyuhyun?”

Aku terdiam sejenak, sebenarnya bingung untuk menjawab. Pertanyaan itu cukup sulit bagiku.

“Aku tidak bilang kalau aku mencintainya, tapi kalau disuruh untuk memilih antara cinta atau persahabatan, mungkin aku akan memilih persahabatan.” Dan aku merasa bodoh setelah menjawabnya.

“Ah, begitu?” Donghae mengangguk dua kali. Dia terlihat menghembuskan napas lega.

“Uh manisnya.” Hyuk Jae kembali mengeluarkan suara menjijikkannya.

“Aku juga mencintaimu, Kyuhyun.” Sambil merangkul leherku. Tapi sedetik kemudian tatapan nya menajam.

“Ngomong-ngomong si Joohyun itu hebat sekali, ya? Baru dua bulan berkenalan denganmu, dia bisa langsung merubahmu. Sedangkan kita?” Hyuk Jae melepaskan tangkapannya pada leherku dan berkata masih dengan menggunakan nada dan gestur tubuh mendramatisir. Belum lagi di tambah sebelah tangannya yang menyentuh dada. “Aku merasa dihinati!” Dia kembali menatapku.

“Kau jahat Kyuhyun!”

“Ya Tuhan, kenapa engkau mengirimkan seorang teman idot pada kami?” Kata Donghae. Aku sedikit terkekeh karenanya.

“Kau salah minum obat apa, nak?” Imbuhnya yang langsung membuatku tergelak sementara Hyuk Jae dan Donghae sendiri melongo. Serempak mereka berkata.

“Kau tertawa?”

Setelah itu wajahku berubah datar kembali. Aku berdehem pelan. Donghae hyung beranjak dari duduknya.

“Aku pergi ke kantin dulu,” dia mengusap perutnya. “Lapar.” Ungkapnya lalu berlalu meninggalkan kami berdua.

***

“Benarkah? Aku senang kalau kau juga senang.”

Sejak beberapa saat yang lalu Siwon sudah berada di sampingku, duduk di atas ranjang. Dia selalu menanggapi perkataanku meski juga sedang sibuk dengan ponselnya.

Siwon hyung juga mendesakku untuk mengatakan apa yang bisa merubah sikapku selama dua bulan belakangan ini. Mau tidak mau aku menyerah atas kegigihannya dan menceritakan semuanya dari awal. Dimulai saat aku terjebak hujan dan kembali bertemu dengan Joohyun setelah sekian lama hingga apa saja yang sudah kami lakukan.

“Hn.”

“Sudah hampir lima tahun sejak saat itu, ya?” Sekali lagi aku mengangguk.

“Sebenarnya aku juga cukup terkejut dengan berita pindahnya keluarga mereka, bagiku mereka tetangga yang sangat baik.” Dia menoleh ke arahku yang sedang sibuk bermain game. “Seo ahjussi sering menanyakanmu padaku, Joohyun juga. Katanya dia ingin sekali bermain bersamamu. Tapi tiap kali dia berusaha mengajakmu, kau selalu menolak dan memasang wajah datar.”

Aku mengendus ketika dia tertawa. “Tapi ternyata setelah dia pindah wajahmu menjadi semakin datar. Selalu murung pula. Ternyata hukum karma itu masih berlaku, ya?”

Hyung?” Desisku merasa kesal sementara Siwon hyung tergelak kencang

“Bagaimana rasanya mencintai, mengagumi dan mengharapkan ‘kelabu’ dalam diam, Kyuhyun?”

Aku mengendus, tidak sama sekali berniat menanggapi ucapannya. Dengan santai aku beranjak menuju kamar mandi, membasuh wajah sekaligus mengganti pakaian.

“Mau kemana?”

Sekitar sepuluh menit aku berkutat dalam kamar mandi lalu keluar. Rupanya Siwon hyung masih betah berada di tempatnya.

“Kenapa masih di sini?”

“Kau ini, selalu saja.” Melalui kaca besar di hadapanku, aku bisa melihat Siwon hyung sedang berdecak. Dia menatapku dengan seksama. “Kencan, eh?” kedua alisnya naik-turun dengan senyum jahil.

“Aku lebih suka menganggapnya sebagai silaturahmi.”

Siwon hyung tergelak sambil beberapa kali menepuk pundakku.

“Jadi sudah bisa move on dari Joohyun? Sekarang siapa kekasihmu?”

Kali ini aku menatap lekat Siwon hyung yang berada di sampingku sambil menyeringai.

“Sebenarnya aku belum resmi dengannya, doakan saja semoga dia menerimaku.”

“Eh?”

“Dan namanya,” jeda sejenak. “Seo Joohyun.”

“APA?!” Pekiknya keras. “Jadi kau akan menyatakan perasaanmu padanya malam ini?”

Aku mendesah, tidak menduga efek nama Joohyun begitu besar terhadapnya. Dia bahkan rela menjadi ekorku. Aku berhenti di depan pintu utama dan berbalik menghadap Siwon hyung.

Hya~ jawab Kyuhyun.” Desaknya sambil berdecak. Aku menggerutu.

“Tidak, bukan sekarang.”

“Lalu kapan?”

“Kalau sudah tiba saatnya nanti.”

“Astaga Kyuhyun, kau sudah begitu lama mencintainya, lima tahun Kyuhyun, lima tahun. Selama itu kau menutup hatimu hanya untuk seseorang dan sekarang setelah orang itu berada di dekatmu, memberimu lampu hijau kau justru menundanya lagi.”

“Jangan sampai dia direbut orang lain, Kyuhyun. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari.”

“Aku tahu.”

Kami saling menatap. Second berikutnya aku merunduk. “Tapi belum ada timing yang tepat, aku tidak ingin dianggap mempermainkannya, Hyung.”

Usai perkataanku tuntas, terdengar helaan napas Siwon hyung. Seolah jengah dengan sikap keras kepalaku ini. Aku mendongak ketika dia menepuk dua kali pundakku.

“Terserah padamu, yang penting kau bahagia dan merasa nyaman.”

***

Berulang kali aku menatap arloji di tangan kiriku menunggu kedatangan Joohyun. Ini sudah hampir sepuluh menit berlalu dari waktu janjian kami untuk bertemu. Aku sempat merasa cemas namun kecemasan itu meluap saat dari kejauhan aku melihat nya berlari tergesa.

“Kyuhyun.” Dia berusaha mengatur napasnya. “Maafkan aku. Tadi aku ketiduran.” Katanya dengan napas masih memburu.

Aku tersenyum. “Atur napas dulu baru berkata, Joohyun. Lagipula tidak masalah bagiku menunggumu cukup lama.”

Joohyun tersenyum lebar. “Kalau begitu ayo ke rumahku.”

“Eum.”

Kami menaiki motorku lalu melaju membelah jalanan malam. Karena keteledoranku yang lupa membawa dua helm, Joohyun tidak memakai benda itu. Rambutnya bergerak tidak karuan tersapu angin saat aku melirik kaca spion. Sementara wajahnya tenggelam dalam lekukan punggungku dan kedua tangannya melingkari perutku.

Sungguh, aku merasa nyaman sekaligus bahagia. Andai mampu, aku ingin menghentikan waktu barang sejenak dan mengabadikan moment ini dalam bentuk foto.

“Joo,” panggilku saat rambu lalu lintas berwarna merah.

“Apa?”

“Selama dua tiga hari ini, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti menjauhiku?”

Melalui keca spion, dapat kulihat dahi Joohyun berkerut sesaat sebelum dia nyengir lebar.

Beberapa hari belakangan ini, tepatnya sejak kami duduk di kursi di depan kelas, Joohyun seperti menjauhiku. Dia tidak lagi menampakkan wajah berseri dan sikapnya yang penuh antusias hilang.

Saat itu aku tidak mau menanyakannya karena kupikir Joohyun membutuhkan privasi. Dan hari ini, dia sudah kembali seperti biasa, Joohyun juga mengirimiku pesan. Mengajakku bertemu di taman kota sebelum pergi ke rumahnya untuk bertemu ibunya. Jadi aku memutuskan diri untuk berani bertanya demikian.

“Hehe,” selalu seperti itu. “Aku kurang enak badan, Kyuhyun. Maaf kalau membuatmu khawatir.”

“Kau sakit?” dia mengangguk. “Lalu bagaimana kondisimu saat ini?”

Joohyun kembali tersenyum, “Sudah baikan. Buktinya aku bisa pergi bersamamu.”

Aku berdecak. “Ah, ya. Kau benar.” Kemudian terkekeh.

Setibanya di rumah Joohyun, ibu Joohyun menyambut kami. Awalnya dia sedikit terkejut dan langsung memelukku, aku bahkan sempat mendengar isak tangisnya. Setelah itu kami menghabiskan malam penuh dengan cerita seputar Joohyun dan apa yang selama ini terjadi padanya.

***

“Joohyun terkadang menangis saat membaca catatan yang selama ini dia tulis semasa kecil karena tidak dapat mengingatnya.”

“Setelah kami memeriksakannya ke dokter, kami baru tahu bahwa Joohyun terkena amnesia retrograde dimana otak tidak dapat mengingat bagian dari masalalunya. Meski dokter juga berkata bahwa penyakit ini bersifat hanya sementara, aku tetap merasa takut karena sampai saat ini Joohyun belum bisa mengingat masalalunya.”

“Termasuk tentangmu, Kyuhyun. Tolong maafkan Joohyun, ya?”

“Lalu bagaimana kondisi Joohyun saat ini?”

Ibu Joohyun terlihat mengembuskan napas lalu tersenyum dan meraih tanganku. “Aku harap dia sudah bisa mengingat semuanya. Apalagi teman masa kecil yang selama ini hilang dari kenangannya sudah kambali.” Sebelah tangan Ibu Joohyun membelai wajahku. Mengamati wajahku dengan lekat.

“Joohyun pasti sangat senang melihat teman masa kecilnya sudah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan.” Lalu terkekeh. “Joohyun pasti bisa jatuh cinta lagi, lagi dan lagi saat melihatmu, Kyuhyun.”

Pipiku bersemu merah muda, aku yakin. “Ahjumma bisa saja.” Responku.

“Aku mohon padamu, bantu Joohyun agar dia bisa mengingat masa-masa yang pernah hilang dulu. Aku yakin dengan berada di dekatmu, Joohyun pasti bisa mengingatnya kembali.”

Aku mendesah dan memandang Joohyun yang sedang asyik dengan ponselnya di sampingku. Sepertinya dia sedang bertukar pesan. Aku jadi merasa iba, pasti dia merasa begitu sakit karena tidak bisa mengingat masalalunya.

Pagi ini pelajaran kembali kosong karena para guru sedang melalukan rapat. Alhasil, kelas menjadi sangat gaduh, melebihi biasanya.

“Hae~ya sebenarnya game apa yang sedang kau mainkan? Sepertinya asyik sekali.” Suara Hyuk Jae terdengar merengek.

“Aku juga ingin memainkannya, pinjamkan ponselmu padaku.”

Asshhh, jangan menganggu Hyuk!” Gertak Donghae terdengar kesal.

Joohyun menoleh kebelakang dimana dua sahabatku itu duduk dan aku juga melalukan tindakan serupa.

“Dasar pelit!”

“Aku tidak peduli!”

“Donghae pelit.”

“Pelankan suaramu bodoh!”

“Salah sendiri pelit.”

Aku mendengar Joohyun tertawa pelan, tidak lama setelahnya dia kembali menghadap depan.

“Baiklah, akan aku pinjamkan asal mulutmu itu berhenti berucap menggunakan nada menjijikkan.” Kata Donghae, aku menggeleng melihatnya dan kembali menatap depan. Mungkin membuka perbincangan dengan Joohyun.

“Joo~ya?”

Dia segera menoleh, “Ya?”

“A-ah tidak… aku hanya, eum bagaimana kalau malam minggu kita pergi bersama? Ke… namsan tower mungkin.” Sekalian mengungkapkan perasaanku.

Joohyun terlihat berpikir sejenak, tidak lama setelahnya dia mengangguk. “Tapi aku tidak janji, ya?”

“Tidak masalah.”

***

“Semoga lancar kawan.”

Siwon hyung menepuk pundak kiriku. Sebelumnya aku memang sudah bercerita bahwa malam minggu ini aku akan menyatakan perasaanku pada Joohyun.

Penuh antusias Siwon hyung menanggapinya. Dia bahkan memberimu saran untuk memakai baju serta bagaimana cara menyatakan perasaan agar terkesan romantis. Aku menganggukinya meski belum tentu melakukannya.

“Doaku menyertaimu.”

Teriaknya ketika aku sudah menancap gas motor dan bersiap berlalu.

***

Desember ini sedang mengalami musim salju. Malam ini salju sedang turun cukup lebat, padahal ketika aku berangkat tadi tidak selebat ini. Aku memutuskan turun dari motor dan menjelajah sekitar sambil menunggu Joohyun. Segala benda yang ada didominasi warna putih. Salju merubah segalanya menjadi putih.

Tiba-tiba ponselku bergetar, ada sebuah pesan masuk.

“Joohyun?” Gumamku ketika membaca username-nya.

Kyuhyun~ah, aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa datang. Saudara dari jepang datang dan aku harus menyusulnya. Jadi…. aku benar-benar minta maaf.

Kecewa itu pasti tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa memaksakan kehendak terhadapnya.

“Eum, tidak apa.”

Dia membalas, Minggu depan aku janji akan menemanimu jalan-jalan, kita akan jalan-jalan berdua. Hanya kita, Cho Kyuhyun dan Seo Joohyun. Ok?

Aku terkekeh pelan membacanya. Dia itu begitu pandai mempermainkan perasaan seseorang.

“Hm.”

Terimakasih, Oppa.

Menghela napas pelan, aku memasukkan ponsel ke dalam saku. Mumpung sudah berada disini, sepertinya berjalan mengelilingi tempat ini bukan ide buruk. Lagipula di rumah pasti Siwon hyung sedang menungguku. Aku tidak ingin melihat wajah kecewanya.

Setiap pijakan kakiku pada tumpukan salju meninggalkan jejak cukup dalam. Pun, dengan pejalan kaki lain. Kami sama sama menghabiskan waktu di bawah salju dekat dengan namsan tower, yang membedakan, mereka bersama pasangan mereka sedangkan aku seorang diri.

Kedua kakiku terus saja membuat jejak sampai pada sebuah jembatan kecil kaki ini berhenti membuat jejak. Kedua bola mataku terpaku, bibirku tertutup rapat dengan kedua rahangnya yang mengeras. Pun dengan kedua tanganku.

Dia berbohong rupanya, mana mungkin bandara pindah ke tempat sekecil ini. Dan… sejak kapan seorang Lee Donghae menjadi saudaramu dari negeri sakura, Joohyun?

Tidak ada yang kulakukan selain tersenyum miris dan berbalik. Terdiam sejenak untuk meratapi nasib.

“Kyu?”

Suara itu bukan milik Joohyun maupun Donghae melainkan milik Hyuk Jae. Dia melangkah mendekatiku dan menepuk pundakku, sempat membawaku dalam pelukannya meski hanya sebentar.

“Maaf, aku terlambat, kawan.” Ujarnya. “Maafkan aku.”

Hyung?” Dia menatapku iba dan meski aku tidak menyukainya aku tetap tidak bisa mengeluarkan sebuah protesan.

“Sejak kapan?” Lirihku.

Hyuk Jae hyung tidak membalas, dia justru memelukku dan melindungi kepalaku dari amukan salju. Secara perlahan kedua tanganku merambat untuk memeluknya.

“Maafkan aku, Kyu.” Bukan kau yang seharusnya meminta maaf, Hyung.

Tiba-tiba saja semua perkataan Siwon hyung teringat olehku. Ketika dia menyuruhku untuk tidak lagi terlalu lama memendam perasaan. Sebisa mungkin aku harus segera mengungkapkannya agar tidak ada kata sesal di kemudian hari. Urusan diterima atau tidak itu masalah nanti, yang lebih penting adalah keberanian untuk mengungkapkan, membebaskan perasaan kita dari perasaan gundah. Tapi dengan bodoh justru aku abaikan dan menganggap semuanya ringan. Akan berjalan sesuai keinginanku.

Hyuk Jae hyung melepaskan pelukannya, dia menatapku dengan senyum lebar. Sudut matanya sedikit berair. Aku tersenyum membalas senyumnya dan menyeka air mata sialan yang entah sejak kapan jatuh membasahi pipi ini.

“Bagaimana kalau kita main game saja? Game center maksudku, mumpung dekat dengan mall.” Ajaknya.

Aku mengangguk. “Hn.”

Kami berjalan bersama.

Hyung,” panggilku. Dia menoleh dengan dahi mengernyit. “Apa?”

“Terimakasih sudah menjadi teman baikku, bagiku kau adalah kakak ke dua setelah Siwon hyung. Sekali.lagi terimakasih, Hyung.”

Selamat untukmu, Joohyun. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu sendiri.

FINAL.

Sengaja sih nggak di banyakin momentnya 😂😂 cerita ini udah aku post di beberapa akun, tapi ini yang beda. Maksudnya alurnya sedikit beda. Sequelnya juga udah on the way. Yang mau baca sequelnya bisa langsung follow Wattpad aku *nyengir*

Noh, jangan sampe senasib sama Kyuhyun. Makanya kalo punya rasa, kalo suka, kalo cinta segera ungkapin. Jangan ditutup-tutupin mulu, kalo yang kalian suka udah teken sama orang laen kan sakit, Ye nggak? Pengalaman pribadi sih sebenernya. Wkwkwk. Terimakasih bagi yang sudah mau vote dan komen. Luv you 😘

Yang mau baca Strata versi twoshoot, ya walaupun nggak beda jauh sama yang Oneshoot. Bisa baca di wattpad-nya aku. https://www.wattpad.com/user/CelviSparKyu. Ditunggu komentar sama vote-nya ya J di sono juga ada FF-ku yang laen kok *ceritanya numpang promosi*

Sekian dan terimakasih buat yang udah RCL lengkap. *Bow

Advertisements

18 thoughts on “DALAM DIAM ~Oneshoot~

  1. Nyesek, q pkir slm kdktn mrk seo jg mmlki prsaan yg sma krn d lyt dr grak-grik’y… Tdk da rsa mnolak or appun eh tak ku sngka tyta jstru kblikan’y… Yg sbr z yah kyu

    Like

  2. Yaaahhhhhh gini yaa kalo gak cepet ngungkapin perasaan, kenapa Seohyun harus bohong sama kyu. Sebenarnya mereka saling cintakan kan? Hiksss plis putusin Donghae pilih kyu aja eonni

    Like

  3. aku nangis bacanya kyu terlalu lma sih memendam perasaanya kan jdi di tikung deh sma donghae. pnasaran klanjutan ceritanya tpi aku gak pnya wattpad gimana dong chingu msa aku gak tau siqwelnya sih hwahwa……….

    semngat trus mnulia ff ny chingu 🙂

    Like

  4. Seo eonnie kok busa sama donghae sih. Pan kasian sama kyuhyun. Udah beberapa kali baca ff yang kyuhyunnya sedih. Kyuhyun juga sih gak cepet2 nembak seo eonnie. Malah keduluan kan jadinya.
    Semoga di sequelnya seokyu busa bersama dan dunia nyata juga #khayal
    Aamiin
    Nice

    Like

  5. Lah sad ending kesian tu kyuppa…ni epep seokyu pan npa jd seohae wakwaw…hmmmm btw bs diambl pljranya nih…kl pny rsa cpt2 ungkapn kl udh mcem gni kan sakit…hmmmm trnyta haeppa mush dlm slimut wkkkwwwwkk…seonni jg jhat kl gt..pkoknya smya jht kcuali kyuppa…poor kyuppa huueeeeee…

    Like

  6. Sad ending ;-(.
    Kasihan kyuhyun oppa ;-(. Dia yang deket sama seohyun, eeh malah jadian nya sama donghae. Sulit dipercaya.
    Donghae nya juga tega sekali nikung kyuhyun :-x. Meskipun kyuhyun bilang ia akan memilih persahabatan dari pada cinta, bukan berarti donghae ngambil seohyun begitu saja kan :-@.

    Like

leave a comment^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s