DALAM DIAM ~JOOHYUN VERS~

Dalam diam.

(Joohyun ver)

.

.

.

.

.

Heol, ini masih tetep ff SeoKyu kok by the way. Cuma mau nyelipin pesan moral-nya aja, entah nyampe apa enggak 😂

Jangan salahin Joohyun ya teman-teman. Cerita ini diambil dari sudut pandang Joohyun yang bakal jelasin semuanya. Terus baru ntar ada seq.nya 😂 tapi masih otw terus panjangnya juga kayak kereta, dijamin males baca deh pokoknya 😅😅

.

.

.

.

.

.

.

Hepiriding

Dalam diam.

“Joohyun ayo bangun, ini hari pertamamu sekolah nak.” Tubuhku diguncang.

“Hey, anak gadis tidak boleh malas.”

Kali ini aku mengerang saat gorden terbuka dan sinar matahari menyela diantaranya.

“Joo!” Ibu memanggilku dengan nada naik satu oktaf. “Mandi atau Eomma yang akan memandikanmu.” Ancamnya.

Aku masih enggan terjaga.

“Astaga gadis perawan satu ini.”

“Ungh!” Desisku merasa sakit. “Eomma, ya ya ya. Aaa Eomma sakit. Pantatku sakit. Eomma hentikan!” Teriakku kesakitan.

“Biar saja. Salah sendiri tidak bangun-bangun.” Eomma masih melakukan hal serupa, yaitu memukul pantatku.

Eomma!” Kali ini aku bangun, menepis tangannya dan menatapnya kesal.

Sambil bersungut aku kembali bersembunyi di balik selimut.

“Aku malas, aku tidak mau sekolah. Aku masih ingin sekolah di tempat lama.” Kataku. “Lagipula sejak awal ‘kan aku sudah bilang, aku tidak mau pindah.”

“Joohyun.” Tegur ibu merasa jengah.

“Jadi kau menyalahkan profesi Appa-mu ini?” Suara lain, milik Ayahku tepatnya terdengar.

Kami menengok ke arah pintu. Ayah sudah siap dengan pakaian dinasnya. Profesi Ayah adalah seorang polisi, jadi tidak heran kalau sikapnya selalu tegas dan tepat waktu.

Appa.” Rengekku menuruni ranjang dan memeluk Ayah. “Eomma memukulku pantatku, katanya aku pemalas padahal aku hanya mempertahankan keinginanku.” Aduku.

Ayah menarik dagunya kebawah untuk memandangku. Dahinya berkerut, aku tahu pasti dia tidak mengerti maksudku.

“Aku masih ingin bersekolah di sekolah yang lama.” Jelasku kemudian. “Lagipula di sana aku sudah memiliki banyak teman. Soo Eun pasti sangat sedih karena aku pindah.”

Mimik wajah ini aku buat semelas mungkin.

“Bagaimana nanti kalau di sekolahku yang baru aku tidak mendapatkan teman?  Justru aku menjadi korban bullying yang sekarang sedang booming,” aku menggeleng. “Tidak tidak! Wajahku pasti hancur karena ulah mereka.” Lalu menatap Ayah yang masih setia mendengarkanku.

Appa tau drama boys over flowers ‘kan? Atau school 2015? Appa pasti tidak ingin puteri Appa ini mengalami nasib seperti tokoh utama wanita dalam drama itu, ‘kan?”

“Bicara apa kau ini, Joo?” Ibu berusaha menyela. “Tingkahmu ini saja sudah dramatis sekali.”

Melalui ekor mata, aku sempat melihat Eomma berdecak pinggang. Buru-buru aku kembali merengek, mengeluarkan jurus apa saja agar Ayah terpedaya dan mau menuruti keinginanku.

Appa sayang Joohyun ‘kan?” Ayah mengangguk. Aku tersenyum miring. “Kalau begitu Appa mau ‘kan menuruti keinginan, Joo? Tidak masalah kalau Joo harus tinggal di flat kecil asalkan masih bersekolah di sana. Soo Eun pasti mau menemaniku, dia kan sahabat karibku.”

“Jangan dengarkan dia Oppa.” Ibu benar-benar menghampiriku dan menjewer sebelah telingaku. “Semakin besar kok semakin manja. Dasar!” Cibirnya.

Eomma?!” Pekikku tidak terima. Sambil meringi sakit aku menatap Ayah meminta pertolongan. Ayah tersenyum dan berjalan menghampiriku yang sudah digiring hampir masuk ke dalam kamar mandi.

“Joo sayang Appa.” Ujarku karena kupikir Ayah akan menyelamatkanku, tapi ternyata…

Kalian tahu bagaimana respon Ayah setelahnya? Dia turut menjewer sebelah telingaku yang lain dan membantu ibu membawaku ke dalam kamar mandi.

Appa!” Rengekku kembali merasa tidak terima. “Kenapa malah membantu Eomma?” desisku kesal. “Kalian berdua sama-sama jahat!”

Seolah tuli, Ayah justru berkata. “Sekarang pilih, mau dimandikan Appa, Eomma atau mandi sendiri?” Ujarnya dengan senyum menyebalkan.

Kalau tahu seperti ini aku tidak akan mengoceh panjang lebar seperti tadi. Sudah memberi efek haus, tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan pula.

“Pilih yang mana sayang?” Ayah kembali bertanya sambil menaik turunkan kedua alisnya. Menyebalkan.

Tanpa membalas lagi aku segera membuka pajama tidur ini dengan, tanpa malu dihadapan mereka. Secara kompak Ayah dan ibu tertawa lalu keluar dari dalam kamar mandi, tidak lupa menutup pintu kamar mandi ini.

Appa yakin kau akan mendapatkan banyak teman dan menarik semua perkataanmu tadi.” Teriaknya.

Aku mengendus.

Eomma juga yakin seyakin yakinnya kalau nanti kau juga akan merasakan jatuh cinta, lagi.” Eomma menyambung dengan teriakan cempreng.

Aku hanya bisa menggerutu kesal dan mandi dengan malas. Tidak sarapan dan langsung berangkat ke sekolah. Ayah sempat berteriak memintaku untuk sarapan tapi aku abaikan. Sudah terlanjur dongkol hati ini.

Setibanya di sekolah dengan mengendarai taxi. Aku ruang kelasku setelah sebelumnya masuk ke dalam ruang receptionis meminta pengarahan di mana kelasku berada. Sepanjang jalan menuju kelas, hampir setiap mata memandangku.

Aku tidak peduli. Lagipula ini sudah menjadi kebiasaan umum saat mereka melihat wajah baru di sekolah. Dulu aku juga sempat melakukannya saat ada murid baru.

Bel jam pelajaran pertama dimulai berbunyi, seorang guru yang tadi jalan beriringan denganku mempersilakanku untuk masuk dan memperkenalkan diri. Jauh diluar ekspektasi, ternyata mereka menyambut hangat kedatanganku. Terkecuali seseorang, mungkin.

Lihat! Bangkunya saja kosong padahal ketika guru tadi bertanya katanya dia masuk. Sudah bisa ditebak sekali kalau dia tidak ingin melihat wajahku.

Oh, di hari pertama sekolah saja sudah mendapat musuh tanpa membuat keributan. Hidupku akan menjadi berat Joohyun. Tapi semoga saja pikiran itu tidak benar adanya.

“Kau bisa duduk di bangkumu, Joo.” Perintah guru tersebut.

Sialnya, aku harus duduk di bersebelahan dengan si pemilik bangku kosong itu karena hanya di sana tempat yang tersisa. Benar-benar tamat riwayatmu, Joo.

“Si Kyuhyun kemana, sih?” Ketika baru saja duduk, aku mendengar suara tepat di belakangku.

“Tadi katanya sakit.”

“Kyuhyun bisa sakit?” Merasa penasaran, aku sedikit menoleh sekaligus menguping.

“Menurutmu?” Kesal siswa yang dari nametagnya bernama Hyuk Jae.

“Aku tidak percaya, mybe Kyuhyun sedang bermain game. Kau tau sendiri bagaimana sifat temanmu satu itu.”

“Sialnya aku harus setuju padamu.” Hyuk Jae menolehkan kepalanya ke arah depan, kami tanpa sengaja saling berpandangan. “Eh? Joohyun, ya?” Tanyanya, aku mengangguk kaku.

Dia mengulurkan tangannya, “Perkenalkan namaku Hyuk Jae, yang di sampingku bernama Donghae dan yang di sampingmu…,” Hyuk Jae terlihat berpikir sejenak. “Sebut saja dia datar, es datar tapi hangat tapi bukan api yang bisa melelehkannya, melainkan mukjizat dari Tuhan dan sekarang entah dia berada di mana.”

Aku membalas uluran tangan Hyuk Jae. “Joohyun, senang berkenalan denganmu.”

Hyuk Jae mengangguk. “Tanganmu lembut ya ngomong-ngomong.” Yang kontan mendapat timpukan bolpoin dari Donghae hingga membuat peraturan tangan kami lepas.

“Sakit Hae~ya,” rengek Hyuk Jae dengan tampang menyebalkan, menurutku. “Kau ini tega sekali! Jahat!” Lalu melipat tangan di atas meja dan menatap lurus ke depan.

Aku terkekeh kecil.

“Jangan dengarkan dia.” Sebagai respon aku hanya mengangguk.

Guru di depan sana memberi instruksi pada warga kelas yang riuh agar tenang, setelah itu pelajaran di mulai dengan otak ini yang tidak tahu kenapa justru sibuk memikirkan teman di sampingku ini sampai seluruh pelajaran usai. Bahkan sering kali melirik ke arah bangkunya. Dan mungkin aku ini sudah gila karena terus saja penasaran dengan rupa dan raganya si ‘datar’ menurut Hyuk Jae itu.

***

Aku menggerutu kesal di depan pagar sekolah. Langit semakin mendung tapi satu pun taxi sama sekali tidak terlihat. Sementara keadaan sekolah mulai sepi. Para siswa sudah banyak yang pulang sejak bel berbunyi sekitar tigapuluh menit yang lalu.

“Astaga, sebenarnya kemana perginya taxi taxi itu?” Gerutuku kesal seraya menendang angin.

Sesaat kemudian kembali melihat jam di layar ponsel.

“Apa lebih baik aku menghubungi Appa?” Second berikutnya aku menggeleng. “Appa pasti sedang sibuk, aku tidak boleh mengganggunya.”

Eomma?” Gumamku pelan. “Apa bedanya dengan Appa?”

Berbeda dengan Ayah, ibu berprofesi sebagai seorang desainer. Beberapa karya ibu sudah di luncurkan dan berhasil menembus pasar internasional. Sejak saat itu ibu selalu sibuk tapi tetap meluangkan waktu untuk keluarga.

Aku mendesah, “Sudahlah. Lebih baik aku naik bus saja. Dan itu artinya aku harus berjalan cukup jauh. Sekitar tiga ratus meter, halte terdekat berada tidak jauh dari perempatan di sana,” Jeda sejenak. “Dan semoga saja hujan tidak turun, atau paling tidak hujan tidak perlu diikuti suara petir.”

Kemudian aku mulai melangkah meski lebih bisa dibilang jalan cepat. Memburu waktu dan kondisi sekitar. Jangan sampai pakaianku basah kuyup akibat air hujan.

Setibanya di sana hujan turun deras, aku mendesah lega tapi juga merasa takut. Halilintar mulai menunjukkan eksistensi, begitupula dengan suara guntur. Aku memekik histeris dan langsung berjongkok sambil menutup telinga rapat-rapat. Satu kelemahan yang tidak banyak orang ketahui, aku takut dengan suara petir.

Tidak lama berselang, petir kembali terdengar dan aku berteriak lebih kencang. Tubuhku bergetar hebat, benar-benar takut. Berulang kali aku memanggil Ayah dan ibu begitu lirih untuk meredam takut namun sia-sia.

Sampai sayup-sayup aku mendengar suara seseorang. Dia memanggil nona entah kepada siapa.

“Nona?”

“Aku takut.” Lirihku.

“Nona?”

Pelan, aku mendongakkan wajah, menatap pemuda yang sedang berjongkok di hadapanku.

“Aku takut.” Aku kembali menggumam. “Guntur itu, bisakah kau menghentikannya?”

“Maaf.” Pemuda itu menggumam dan aku sadar akan kekonyolanku. “Aku tidak bisa.”

Aku kembali menyembunyikan wajah di antara lekukan kaki.

“Tapi mungkin aku bisa mengurangi ketakutanmu.”

Segera aku kembali mendongak dengan mata berbinar. “Benarkah?” Tanyaku memastikan.

“Aku tidak yakin sebenarnya.”

Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sepasang headset beserta ponsel lalu masangkan headset tersebut pada telingaku dan menyalakan sebuah lagu.

“Terimakasih.” Ujarku sambil tersenyum.

Dia juga tersenyum dan mengajakku untuk duduk di atas kursi. Dengan berani, sesekali aku melihat wajahnya yang sedikit familiar meski aku tidak mengenalnya. Dilihat seragamnya, sepertinya dia murid di sekolah baruku.

Sadar dengan udara yang terasa menusuk tulang, aku mengusap kedua sisi lenganku. Lantas secara tiba-tiba sebuah jaket menyampir di atas pundakku. Sontak aku langsung menatap pemuda di sampingku ini.

“Kau yang lebih membutuhkan.” Begitu katanya. Aku tersenyum. “Jadi jangan sungkan.”

“Terimakasih.” Dia mengangguk.

Selanjutnya, keheningan terjadi diantara kami. Melalui ekor mata aku dapat melihat dia sedang menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya dan sesekali meniupnya.

Aku tersenyum.

“Lebih baik kita saling berbagi.” Ujarku. “Aku tahu kau juga pasti kedinginan, maklum udaranya benar-benar dingin.”

Aku sengaja berbagi jaket dengannya dan membuat tubuh kami saling berdekatan karena jaket yang tidak seberapa besar ini. Kulit lenganku bersentuhan dengan kulit lengannya yang terasa begitu dingin.

Dia terlihat sungkan tapi entah mengapa terlihat manis di mataku.

“Um.” Angguknya. “Terimakasih.”

Begitu hujan sedikit reda, dia memberi tawaran untuk mengantarkanku pulang. Sebenarnya aku merasa tidak enak hati, tapi karena keadaan yang mendesak aku menerimanya.

Kami berhenti tepat di sebuah gang kecil lumayan jauh dari complex rumahku, aku sangaja meminta turun di sini agar tidak terlalu merepotkannya.

“Terimkasih atas jaket dan bantuannya tadi.” ungkapku sambil membungkuk kemudian berbalik.

“Jaketku?” Pertanyaannya menghentikan langkahku.

“Ah, biar aku cuci dulu.” ujarku seraya melihat jaket yang sedang aku bawa ini.

“Tidak perlu.”

“Tapi–” ujarku berusaha menolak.

“Biar aku sendiri yang mencucinya.” Dia mengulurkan tangan. “Cepat berikan sebelum hujan turun lagi.”

Aku menyerahkannya dengan setengah hati.

“Kalau begitu sekali lagi terimkasih.” Dia menutup kaca helm full face-nya. “Hati-hati di jalan.” Teriakku sambil melambai.

Mungkin benar apa yang dikatakan Ayah. Aku akan mendapat banyak teman dan menarik perkataanku sendiri. Ibu juga benar karena sepertinya aku mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Wahai engkau pemuda taman, siapa namamu? Di mana kelasmu berada?

“Uh, malu sekali rasanya ya Tuhan.”

***

Satu yang tidak pernah aku bayangkan, yaitu pernyataan cinta secara mendadak dari orang bernama lengkap Lee Hyuk Jae ini.

Dia berlutut di depan ku yang masih berdiri di depan kelas, setelah itu mengulurkan sebuket bunga dan mengucapkan kata-kata rayuan. Tapi sayangnya tidak mempan. Aku menolaknya secara halus dan lebih memilih menghampiri seorang pemuda yang kebetulan baru datang. Aku mengenalnya, jelas saja, sejak kemarin sore.

“Jadi namamu Kyuhyun, ya?  Hehe, maaf aku membaca nametag-mu lancang. Habisnya kemarin kita belum sempat kenalan.”

Kyuhyun terlihat kikuk, aku tahu dia malu dengan sikap lancang dan pembenariku ini, jauh berbeda dengan sikapku kemarin.

“Perkenalkan, namaku Joohyun, Seo Joohyun. Senang berkenalan denganmu, Kyuhyun-ssi.”

Ternyata aku salah, orang yang kuanggap sebagai orang yang membenciku ternyata justru menyelamatkanku. Dia jauh dari kata buruk yang beberapa kali sempat kuucap dalam hati. Dimulai pada detik itu, hubunganku dengan Kyuhyun mulai mendekat dan aku sadar bahwa ini benar-benar perasaan cinta.

***

“Katanya tidak mau pindah. Katanya berkemungkinan besar menjadi korban bullying. Tapi sekarang malah begitu giat masuk sekolah.” Ibu menyindir.

“Bahkan bangun begitu pagi, benar-benar bukan sikap puteri Appa.” Ayah menimpali.

Aku mengendus. “Joo–“

“Siapa gerangan yang membuat wajah puteri Appa ini terlihat begitu bahagia?” Ayah memotong perkataanku.

Aku kembali mengendus namun tetap berusaha menjawab yang lagi dan lagi kalah cepat dengan Ayah.

“Laki-laki atau perempuan?” Ayah menggeleng. “Pilihan ke dua jelas tidak mungkin, puteri Ayah pasti masih normal.”

Aku hampir saja membalas andai ibu tidak menyahut. “Kalau Joohyun tidak normal, aku akan memecatnya jadi anakku.”

“Jadi—“

Eomma, Appa, kalau kalian terus mengoceh kapan aku bisa menjawabnya?”

Di sampingku, Ayah tergelak kencang. Dia mengusap puncak kepalaku yang sedang mencebikkan bibir sambil mendekap boneka kesukaanku ini, Keroro.

“Baiklah baiklah, sekarang katakan siapa yang membuat puteri Appa ini begitu menyukai sekolah barunya.”

Aku tersenyum.”Ada seorang teman yang rupa dan namanya tidak asing, padahal aku belum pernah bertemu dengannya.”

“Siapa?” Ibu yang sedang menghidangkan camilan bertanya. Dia duduk di sampingku. Jadi, posisiku saat ini berada di antara Ayah dan ibu.

“Namanya Kyuhyun, marganya Cho. Sama dengan marga yang ada di buku diary milikku.” Jelasku.

Tiba-tiba Ayah meluruhkan volume televisi dan menatapku. “Cho Kyuhyun?” Beonya. Aku mengangguk.

“Sejak kenal dengan dia aku jadi sering mengingat dan memimpikan sesuatu.” Ceritaku lagi.

Aku menceritakan semua perasaan yang aku alami kepada Ayah dan ibu tanpa terkecuali, apalagi soal mimpi dan kilas bayangan asing yang sering melintas dalam pikiranku. Terkadang aku berpikir bahwa itu adalah kenangan masalalu yang selama ini lenyap dalam ingatanku. Kalaupun seandainya memang benar, aku yakin dengan sangat, pasti Kyuhyun memiliki kaitan erat dengan semua kenanganku di masa lalau itu.

“Jadi begitu ceritanya,” pungkasku mengakhiri cerita.

Ayah dan ibu terlihat saling berpandangan. Mereka sama-sama menyunggingkan senyum dan mendekatkan wajah mereka untuk mengecup kepalaku. Membuat toples berisi keripik yang sedang aku hampir terjatuh.

“Sepertinya puteri Appa ini sedang jatuh cinta.” Celetuk Ayah yang mampu membuatku mendelik seketika dan merasakan wajah ini memanas.

“Kapan-kapan ajak si Kyuhyun itu main ke rumah.” Sahut ibu dengan kerlingan jahil.

“Kalian ini bicara apa?” Ujarku, setengah mati menahan malu.

“Bicara tentang puteri Appa yang sedang kasmaran.” Segera aku mencubit pinggang Appa saking kesal dan malunya.

Dia tidak merah, justru menggelakkan tawa begitu kencang, pun dengan ibu. Sambil memakan keripik dia tertawa lebar.

“Ah sudahlah, aku mau ke kamar, belajar.” Pamitku.

Meski sebenarnya di dalam kamar aku menghabiskan waktu di atas balkon. Menatap langit luas sambil berbincang dengan Soo Eun. Selama ini aku masih sering berhubungan dengan Soo Eun. Aku juga menceritakan kejadian apa saja yang aku alami padanya dan dengan senang hati Soo Eun mendengarkan sekaligus memberimu masukan. Aku beruntung memiliki teman sepertinya.

Larut dalam perbincangan, aku lupa bahwa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan berat hati aku memutus sambungan dan berjalan menuju kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk membasuh wajah, kedua tangan dan kaki sebelum beranjak tidur. Setelah itu aku menaiki ranjang dan menarik selimut lantas mulai terlelap.

***

Semalam aku mengalami mimpi itu lagi, tapi kali ini lebih jelas. Di mana aku sedang berada di sebuah lapangan luas tanpa pepohonan, hanya ada rerumputan yang terus bergoyang diterpa angin. Jauh di tengah lapangan ini ada seorang anak kecil sedang berdiri memunggungiku.

Merasa penasaran, aku berjalan mendekati anak itu. Seiring jarak kami yang terkikis, tubuh anak kecil itu berubah menjadi remaja sebaya denganku. Dia tinggi, kulitnya putih bersih, rambutnya tebal dengan warna cokelat. Rasanya tidak asing.

Dengan berani, aku menyentuh pundak pemuda itu dan membuatnya berbalik. Saat pandang kami bertemu, saat itu juga tangisku pecah. Aku mengenali sosok ini, sangat kenal, sejak dulu. Dia, teman yang pernah kulupakan. Dia, orang yang selama ini aku cintai. Dia, seorang Cho Kyuhyun.

Kedua tangan Kyuhyun meraih wajahku, menarik dan mendaratkan sebuah kecupan manis di atas keningku.

“Kau sudah ingat semuanya?” dia tersenyum. “Ya, ini aku Joohyun, teman kecilmu, Cho Kyuhyun. Kau tahu? Aku begitu merindukanmu, aku harap kau juga merasakan hal yang sama denganku.”

Sebuah pernyataan yang kembali membawaku pada alam nyata dan bangun dengan mata basah karena tangis. Soo Eun merupakan orang pertama yang aku hubungi untuk menceritakan semuanya. Sepanjang bercerita, aku terus saja menangis. Tidak peduli pada teriakan penuh kekhawatiran ibu di luar sana. Ranya aku benar-benar bahagia.

“Aku sudah memutuskan untuk mengatakannya nanti. Kau tahu sendiri, Kyuhyun itu walau diam dan memiliki banyak julukan aneh, aku tahu dia memiliki banyak fans girl. Aku tidak mau kehilangannya untuk kedua kali,” tekadku. “Sudah cukup sekali saja aku kehilangan Kyuhyun, bahkan melupakan bagaimana rupa dan wajahnya. Aku tidak ingin para fans girl Kyuhyun bergerak lebih dulu, nanti aku yang akan menderita.”

Soo Eun tertawa keras, katanya tingkahku sangat berlebihan. Seperti Joohyun lain yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Aku tidak peduli, salahkan saja si Kyuhyun itu.

“Kalau begitu semangat Joohyun.”

Aku mengangguk. Sambungan terputus dan aku segera bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh diri dan pergi ke sekolah. Menemui si Kyuhyun itu. Membayangkan wajah penuh keterkejutannya membuatku terkikik geli.

“Salah sendiri bersikap seolah-olah tidak mengenaliku.” Kedua pipiku mengembung. “Pantas saja kau tau banyak tentangku padahal aku belum terlalu banyak menceritakan tentangku padamu.”

Kedekatan kami ini berjalan hampir dua bulan ini. Seperti hari-hari sebelumnya saat pelajaran kosong, kami menghabiskan waktu untuk mengobrol di depan kelas dengan duduk di atas kursi. Kami membahas apa saja yang bisa kami bahas sekalipun itu hal yang tidak penting.

Saat ini Kyuhyun sedang menceritkan tentang kecelakaan yang pernah menimpanya dulu, yang membuat sifat kakak dan keluarganya jadi overprotective. Wajahnya terlihat kesal saat bercerita, aku tahu pasti dia teringat sikap dan perilaku kakak atau keluarganya.

“Tapi tindakan mereka semata-mata hanya tidak ingin hal buruk terjadi lagi padamu, mereka benar-benar menyayangimu.” Ujarku.

Dia terdiam dalam waktu cukup lama lalu mengangguk. “Hn.”

“Oh ya Kyuhyun, aku sering bercerita tentangmu pada ibu. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Kapan-kapan main ya ke rumahku.”

Kedua kaki ini bergerak mengayun karena kursi yang kami duduki ini cukup tinggi. Tanpa sengaja, kami saling berpandangan. Obsidian-nya yang terlihat dingin dan mengintimidasi itu sama sekali tidak berubah, namun aku tahu bahwa sebenarnya obsidian itu sangatlah hangat.

Sebelum dia memalingkan wajah, aku sempat melihat wajahnya merona merah muda. Dalam hati aku terkikik geli, dia pasti merasa malu. Uh, imut sekali saat Kyuhyun-ku yang cuek ini sedang malu-malu kucing.

“Hn, kalau ada waktu.” Responnya kemudian.

“Janji, ya?”

Kyuhyun membalas tautan jari kelingkingku dengan senyum tipis.

“Tapi kau juga harus bermain ke rumahku.” Katanya.

Aku mengangguk. “Itu pasti! Kau tenang saja.” Lagipula aku juga begitu merindukan Ayah dan ibumu juga Siwon Oppa

Teringat sesuatu, aku menepuk keningku sambil meringis. Sesaat kemudian aku menatap Kyuhyun dengan cengiran lebar hingga membuat sudut-sudut mataku menyipit.

“Kenapa?” tanyanya.

“Hehe.” Aku tersenyum kikuk. “Aku melupakan sesuatu. Maaf ya Kyuhyun, aku pergi dulu.”

“Daaahhh!!” Aku hanya tersenyum sebagai balasan lambaian tangannya.

Sebenarnya, setelah ini aku ingin memberi kejutan untuk Kyuhyun. Selain untuk menyatakan cinta, aku juga ingin memberitahu Kyuhyun bahwa aku sudah bisa mengingat semuanya. Tentang masa lalu kami, tentang betapa sering dia mengawasiku dari balik kaca jendela kamarnya namun selalu diam saat aku mengajak bicara.

Kurang dua langkah lagi aku berhasil masuk ke dalam ruang music untuk meminjam guitar saat aku teringat sesuatu yang memaksaku untuk kembali menghampiri Kyuhyun. Tadinya, langkahku terlihat begitu bersemangat tapi saat di antara kami kurang dari satu setengah meter langkah ini melambat hingga akhirnya berhenti.

Aku bersandar di balik dinding tidak jauh dari mereka, Kyuhyun berserta dua sahabatnya, Hyuk Jae dan Donghae. Mereka sedang terlipat dalam sebuah percakapan yang mampu membuatku membisu dengan persendian kaki mulai merasa lemas.

Dengan kedua telingaku sendiri aku mendengar bahwa dia akan lebih memilih persahabatan ketimbang teman sebagai jawaban dari pertanyaan Donghae. Mendadak air mata menggantung pada masing-masing sudut mataku. Hati ini menjerit pilu, rasanya sakit saat aku mengingat sesuatu bahwa mungkin Kyuhyun tidak menaruh rasa terhadapku.

“Joohyun bodoh!” gumamku sambil memukul kepalaku sendiri. “Mamangnya aku ini siapa hingga Kyuhyun mau mencintaiku? Dari dulu sampai detik ini mungkin masih tetap sama, bagi Kyuhyun aku hanyalah sebatas teman, tidak lebih.”

Lantas secara perlahan air mata ini mengalir.

“Aku pergi ke kantin dulu,” Donghae berteriak. “Perutku lapar.”

Sedangkan aku masih diam di tempat meratapi semua ini. Sudah tidak ada lagi niatan untuk memberi tahu Kyuhyun tentang ingatan yang berhasil aku ingat kembali. Keberanian untuk menyatakan cinta padanya juga lenyap begitu saja.

“Astaga, Joo? Kau kenapa?”

Donghae berdiri di hadapanku, memandangku penuh kekhawatiran.

“Kenapa menangis?”

Diam tanpa respon, aku masih sesengukan dengan wajah yang kian merunduk.

“He-hey, Joo, ada apa denganmu?”

Aku sama sekali masih belum menjawab. Tubuhku ditarik, wajahku sengaja di benamkan dalam lekuk lehernya. Dia, Donghae memelukku dengan berani di tempat umum seperti ini.

“Jangan menangis, ya? Asal kau tahu, aku juga merasa sedih saat melihatmu menangis.” Dia berbisik. “Aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai menangis seperti ini, jadi dia, ya?”

Donghae semakin erat memeluk tubuhku yang sudah menjelma menjadi patung ini.

“Sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu.” Dia kembali berbisik.

Sebut aku wanita jahat karena aku pun merasa demikian. Di mulai sejak saat itu hubungan kami semakin dekat sampai akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya dan dengan bodoh aku menerima tawarannya. Saat menerima permintaannya, yang terlintas dalam otak hanya satu, semoga dengan ini aku bisa melupakan Kyuhyun dengan cepat.

Tidak ada yang tahu mengenai hubungan kami karena sebelum aku menerima permintaannya, aku mengajukan sebuah syarat. Bahwa tidak boleh ada yang mengetahui hubungan kami, selain itu Donghae juga tidak boleh melarangku untuk berdekatan dengan Kyuhyun.

FINAL

Males nulis kelanjutannya ya Allah, hahaha, jadi END sampe di sini. Semoga kalian menikmati fanfic ini dan dengan senang hati memberi voment J ini nikinnya ngebut sumpah, jadi maaf kalau agak aneh alurnya plus banyak sangat typo(s)-nya.

Baca komentar kalian jadi gatel pen bikin yang versi Joo, walaupun aneh wkwkwk.

Oh iya, khusus buat seq. ntar bakal aku post di wattpad. Yang mau baca komen sama vote-nya ya jangan lupa.

 

Arigatou Goziaimasu 😀

Advertisements

14 thoughts on “DALAM DIAM ~JOOHYUN VERS~

  1. Jadi seo emang beneran jadian ama hae….???kenapa seo seceroboh itu,alasannya juga agak konyol sih klo menurut q.dan yang aq mo tanyai sebenernya yang kecelakaan siapa yang lupa siapa……?????butuh sequel nih chingu……

    Like

  2. Jadi seo eonnie salah oaham sama kyuhyun. pan kyuhyun waktu itu ditanya sama sahabatnya akhirnya seo eonnie milih sahabat. Gitu tuh kalau dengerin setengah2 .
    Ada sequelnya gak.
    Buat nereka gak salahpaham
    Nice

    Like

  3. Hmmmmm jd gt…tp tu bkn alasan untk berbuat sprti tu…asumsinya seonni pndek y…yasudahlah y…tp greget ja pny asumsi gt trs jdian pula ma haeppa….yasudahlah kl gt smoga sma2 happy ja…cinta dalm hati ja kl kt ungu..

    Like

  4. Aigooo jadi seoma juga mencintai kyupa dan sudah mengingat semula siapa kyupa..aigoo apa yg akan berlaku pada kyupa-seoma-hae oppa…

    Like

leave a comment^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s