TRILOGI LOVE TO LOVE seri 1

TRILOGI LOVE TO LOVE

17195282_1126733737452279_1255322140_o.png

.

.

.

SERIES 1

~WAITING STILL~

.

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING!!

Kami terjebak di rumah itu, namun hanya aku yang terjebak dalam tali kasih tanpa balasan di tempat tersebut.

Sebelumnya, perkenankan aku untuk memperkenalkan diri. Namaku Kyuhyun, margaku Cho. Putera bungsu dari dua bersaudara. Selebihnya, kalian tidak perlu tau, lebih baik kalian tau tentang lawan mainku.

Namanya Seo Joohyun, seorang puteri tunggal pemilik yayasan sekolah kami. Selebihnya aku tidak tau, terkecuali tentang parasnya yang ayu dan lembut senyumnya. Oh, aku lupa, dia juga merupakan pribadi yang ceria dan sangat hangat di usianya saat itu. Jadi tidak heran kalau dia banyak dikenal dan dikagumi. Termasuk olehku.

Cerita kami berawal sekitar dua belas tahun yang lalu setelah pengumuman kenaikan kelas. Sertelah satu minggu lamanya kami menempuh ujian tulis, seratus persen dari kami dinyatakan naik ke kelas berikutnya, tingkat akhir Sekolah Menengah Atas.

Perolehan rangking secara menyeluruh, aku menduduki posisi ke dua sementara Joohyun pertama. Maaf, aku melupakan satu hal lagi, Joohyun juga mahir dalam bidang akademik maupun non akademik. Bisa dibilang dia itu musuhku dalam urusan berebut prestasi.

Mengagumkan, ‘kan?

Sebab itu aku begitu bangga sekalipun perasaan ini hanya aku yang memilikinya. Tidak perlu dibalas karena cinta tidak menuntut balasan. Kalau ditanya ingin atau tidak mendapat balasan, hanya orang bodoh yang menjawab tidak. Sayangnya aku adalah orang pintar, jadi aku akan menjawab ‘ya’ dengan tegas.

Namun untuk urusan lebih lanjut seperti balasan atau semacamnya, semua itu tergantung takdir Tuhan. Karena di dunia ini tidak pernah ada yang namanya kebetulan, yang ada adalah takdir.

Aku percaya kami memang ditakdirkan untuk bertemu meskipun tidak untuk bersatu.

Embun pagi itu, dua belas tahun yang lalu. Masih setia hinggap di dedaunan serta dahan. Menguarkan aroma sejuk yang rasanya mampu menembus dada. Menyegarkan paru-paru.

Sekolah mengadakan kegiatan social sebagai kegiatan akhir tahun dengan melakukan kunjungan ke sebuah desa terpencil di daerah terpencil pula selama beberapa hari. Letaknya beratus kilometer dari Seoul, ibu kota negara-ku.

Rumornya, di desa itu tingkat pendidikan begitu rendah di era globalisasi yang mana tingkat kecanggihan teknologinya melesat cepat tiap hitungan menit.

Diharapkan dengan kegiatan kami, mereka bisa sadar tentang betapa pentingnya nilai pendidikan dalam kehidupan yang akan membangun kondisi ekonomi mereka agar menjadi lebih baik. Dan aku bangga karena bisa menjadi salah satu dari beberapa sukarelawan yang ada.

Mereka yang ikut tidak diwajibkan membawa sesuatu yang berharga dengan manfaat dapat membantu, namun kesadaran menyentak kalbu untuk membawa banyak buku serta benda lain untuk mereka yang lebih membutuhkan.

Kami berkumpul di halaman depan sekolah. Hyuk Jae hyung, Jaehyun, Jung Soo hyung dan beberapa murid perempuan dari kelas lain terlihat berkumpul. Mereka tersenyum menyadari kedatanganku. Dinatara nama yang aku sebutkan tadi, Jung Soo hyung merupakan kakak kelas yang mana artinya tahun ini dia dinyatakan lulus.

“Kau datang?” Hyuk Jae hyung bertanya, dia merupakan satu-satunya teman dari kelas yang sama denganku. Meskipun begitu dia satu tahun lebih dua dariku, sebab itu aku memanggilnya hyung.

Aku tersenyum, “tentu.”

Mereka membantuku meletakkan apa yang aku bawa pada tempat yang sudah disediakan.

“Anak-anak, kalian sudah kumpul semua?” Suara Shin Dong saem terdengar menginterupsi.

“Em, sepertinya sudah,” jawab Hyuk Jae hyung seraya menghitung sekaligus menyebut nama masing-masing anggota, “yang namanya belum aku sebutkan angkat tangan, ok?”

“Siap!” seru kami serentak.

“Perempuannya delapan tujuh?” Tanya Hyuk Jae hyung pada salah satu murid perempuan.

“Ada sembilan kalau tidak salah.”

“Sembilan?” Jung Soo hyung menggumam, terlihat berpikirn sambil menghitung jumlah anak perempuan, ” delapan? Kalau begitu siapa yang satunya lagi?”

“Joohyun,” itu suara Jaehyun, lelaki sebaya denganku, “aku dengar-dengar Joohyun juga ikut berpartisipasi.”

“Ah, ne! Joohyun juga ikut,” seru seorang gadis menyetujui.

“Joohyun?”

Kali ini aku yang merasa penasaran, pasalnya aku adalah murid pindahan. Baru bersekolah di sini sekitar dua bulan yang lalu. Harap dimaklumi apabila aku tidak mengenal seluruh warga sekolah.

Banyak yang penasaran dengan alasan kepindahanku yang menurut mereka sangat disayangkan. Pasalnya aku pindah ketika mendekati detik-detik kenaikan kelas.

Bukan hanya satu dua orang yang menuding bahwa aku akan gagal dalam mengikuti ujian kenaikan, karena semasa mengurus surat kepindahan pastinya banyak waktu yang terbuang percuma tanpa belajar. Tetapi aku dapat membuktikan bahwa aku bisa dan memang sudah seharusnya bisa.

Aku bukan pecundang. Pecundang yang sebenarnya adalah mereka yang mengaku kalah sebelum pertarungan di mulai.

Tsk! Bagaimana mungkin kau bisa tidak tau tentang Joohyun?” Hyuk Jae hyung berdecak.

Aku mengangkat bahu, “memangnya siapa Joohyun itu?”

“Dia gadis yang cantik, tinggi, putih, pintar, puteri pemilik yayasan sekolah ini pula, sahabatku pula,” cerita seorang gadis ber-nametag… Bae Joohyun menjawab.

Tunggu, Joohyun? Bukankah itu dia sendiri?

Gadis itu tersenyum padaku seperti menyadari maksud kernyitan pada keningku, “namaku Bae Joohyun, sementara orang yang menjadi perbincangan kita adalah Seo Joohyun. Itu orangnya,” ujarnya seraya menunjuk seseorang menggunakan dagu.

Sontak aku menoleh ke belakang karena posisiku memunggungi gerbang masuk.

“Ah, maaf aku datang terlambat,” suaranya terputus, napasnya memburu, dia bahkan terus berposisi membungkuk dengan punggung naik turun.

“Joohyun~ah, kau tidak apa?” Suara Shin Dong saem terdengar khawatir.

Joohyun mengangkat kepala, menatap Shin Dong saem lalu mengangguk sambil mengacungkan ibu jari, “aku tidak apa, saem.”

“Kalau tidak apa-apa kenapa kau bisa terengah seperti ini, huh?”

Bae Joohyun menghampiri Seo Joohyun, memiting lehernya kemudian menuntunnya mendekati tujuh teman mereka yang lain.

“Tadi sepedaku mendadak bocor. Karena sudah tidak ada pilihan lain makanya aku berlari.”

“Makanya lain kali hati-hati,” nasihat an Jaehyun hyung.

Joohyun hanya meringis lebar, detik itu aku menyadari ternyata dia begitu cantik.

“Aku mana tau kalau akan jadi seperti ini. Andai manusia tau kapan mereka terlibat dalam sebuah bencana, pasti mereka akan berupaya menghindar agar selamat. Agar dunia ini bebas dari kecelakaan, agar dunia hidup dalam damai.”

“Orang kaya tapi pelit,” Hyuk Jae hyung mencibir.

Joohyun justru tertawa, “bukan pelit tapi hemat. Hemat pangkal kaya.”

Aku terkekeh pelan atas jawaban tersebut.

“Terserah.”

“Huu~ payah!” sorak Joohyun mengejek. “Eh, kau murid baru itu, ya?”

Joohyun menatapku sementara aku secara bergantian aku menatap Hyuk Jae hyung, Jaehyun serta Jung Soo hyung layaknya orang bodoh dan mereka memberi isyarat bahwa yang dimaksud oleh Joohyun adalah aku.

“Oh, hm. Aku murid baru itu.”

“Ternyata rumor itu benar,” Joohyun tersenyum sangat manis, “kau tampan.”

Detik selanjutnya gelegar tawa terdengar, membuatku terus mengusap tengkuk akibat rasa malu. Joohyun sendiri beberapa kali mendapat jitakan yang aku yakin hanya sebuah guyonan dari beberapa temannya termasuk Jaehyun.

“Kau ini,” Jaehyun memiting leher Joohyun.

“Eh tapi aku jujur, Kyuhyun memang tampan,” ujar Joohyun, sekali lagi dia menatap padaku sambil berusaha melepaskan diri dari pitingan Jaehyun, “di masa depan nanti, mau ya jadi suamiku?”

Semua mata memandang Joohyun, termasuk aku yang bahkan sampai tidak berkedip. Bola mata berwarna hazle milik Joohyun bergerak menatap kami satu persatu lalu kembali tergelak, “Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan diambil serius,” ujarnya, kemudian menatapku, “tapi kalau Kyuhyun mau juga tidak masalah, aku senang. Oh ya, perkenalkan namaku Joohyun, Seo Joohyun, bukan Bae Joohyun.”

“Hah, dasar kurang belaian,” Iren menoyor kepala Joohyun.

Joohyun meringis dengan tangan masih terulur menunggu balasanku. Seperti tersihir, tanganku bergerak cepat menggapai uluran tangannya.

“Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”

Begitulah awal persahabatanku dengan Hyuk Jae, Jaehyun dan Iren dimulai serta berkenalan dengan si manis Joohyun itu. Seorang gadis keturunan orang berada dengan pribadi berbeda dari kebanyakan orang kaya. Dia tidak kaku, apalagi sombong. Dia begitu hangat seperti mentari yang kini mulai menunjukkan eksistensi.

“Baiklah, karena kalian sudah berkumpul lebih baik kita segera berangkat, sebelumnya kalian masukkan terlebih dahulu barang bawaan kalian dalam bagasi bus.”

“Ok, saem,” secara kompak kami menjawab demikian.

“Aku biasa dipanggil Iren, ok? Salam kenal Kyuhyun~ah,” kata Iren padaku sembari menepuk dua kali pundakku.

Aku mengangguk sebagai respon.

Kami duduk pada bangku yang kami pilih sendiri. Karena rupanya Hyuk Jae hyung memilih duduk bersama kekasihnya, Kim Nari. Yang baru beberapa saat lalu aku ketahui, secara otomatis aku duduk sendiri karena Jaehyun sudah duduk bersama Jung Soo hyung.

Aku memilih duduk satu baris dengan Jaehyun dan Jung Soo hyung pada barisan dua dari belakang. Tepat di depan duo Joohyun yang rupanya duduk satu tempat, berdampingan dengan Hyuk Jae hyung dan Nari yang sibuk berpacaran. Selebihnya, aku tidak memperhatikan mereka. Maaf.

Sebenarnya aku masih bingung kenapa Shin Dong saem memilih bus lumayan besar sebagai kendaraan sementara jumlah kami hanya kurang dari lima belas orang. Tetapi biarlah, itu bukan urusanku.

Sekitar tiga puluh menit bus berjalan, Jaehyun bertanya, “eum, Kyuhyun~ah kau bawa makanan tidak?”

Kepalaku langusng menoleh lalu mengangguk sebagai balasan, tetapi Iren terlebih dulu berkata, “aku bawa banyak.”

Jaehyun menatapnya, “Jinjja?”

“Eum,” aku menoleh, melihat Iren sedang menatap Jung Soo hyung seperti dengan tatapan memohon.

“Sayangnya aku tidak mau pindah,” ujar Jung Soo hyung seraya menjulurkan lidah.

“Hahaha, sabar uri Bae~ya,” Joohyun terbahak keras.

Entah kenapa aku ikut tertawa meskipun pelan.

Aisshhh kau ini, seharusnya kau membantu bukan malah mengejek seperti itu.”

“Uh, sayang jangan cemberut seperti ini, nanti jelek.”

“Shut up, bitch!”

Joohyun mencebikkan bibir, “kasar,” dengusnya.

“Iren~ah, mana makanannya? Aku lapar, kemarin tidak sempat membeli makanan.”

“Kau bisa memakan punya Kyuhyun,” usul Jung Soo hyung.

Aku mengangguk.

“Tapi aku ingin makan punya Iren.”

“Apanya Iren yang akan kau makan?” Sahut Hyuk Jae hyung dengan seringai andalannya.

“Kondisikan otakmu, bung,” Jung Soo hyung menggeplak kepala Hyuk Jae hyung menggunakan topi yang dia pakai, “aku heran kenapa kau bisa mau dengannya, Nari.”

“Sudah pasti karena cinta,” jawab Hyuk Jae santai.

Seluruh penghuni bus tergelak dibuatnya, tidak terkecuali Shin Dong saem yang duduk di samping supir.

“Iren~ah, kau bisa duduk di samping Kyuhyun atau Kyuhyun duduk bersamaku, dengan begitu kau bisa leluasa berdekatan dengan Jaehyun Oppa.”

“Eh?”

Bukan hanya aku yang terkejut, tapi Iren pun demikian.

“Kyuhyun-ssi, kau mau kan duduk bersamaku?” Tanya Joohyun sambil menatapku, “tenang saja, aku tidak akan mengigit.”

Satu lagi yang aku sukai dari Joohyun, yaitu selera humornya yang tinggi membuat keadaan tetap terasa hangat bahkan tidak canggung sekalipun kami belum terlalu mengenal.

“Iya, lebih baik kau duduk di tempat Kyuhyun, biar Kyuhyun duduk bersama Joohyun,” kata Jaehyun, “kau mau ‘kan Kyuhyun?”

“Aku—“

“Sudahlah, rezeki namanya bisa duduk bersama Joohyun, Kyuhyun,” seru Nari.

“Hush! Jangan terlalu galak, kasian Kyuhyun. Murid baru, repot kalau dia sampai menangis,” guyon Hyuk Jae hyung membalas.

Aku hanya terkekeh pelan sementara yang lain tertawa seadanya, beda halnya dengan Joohyun yang tergelak keras.

“Joohyun pelankan suaramu!” Iren mengingatkan dengan mata mendelik lebar.

Seketika tawa Joohyun berhenti, “Upppsss!!” Joohyun berekspresi seperti terkejut sambil membungkam bibir, detik berikutnya, “ayo Kyuhyun cepat pindah. Kasihan Jaehyun Oppa, keburu pingsan.”

“Baiklah.”

Di depan sana, Shin Dong saem bertanya dengan suara keras, “agar kalian tidak mengantuk, bagaimana kalau kita bernyanyi. Ada yang bawa gitar tadi?”

Dan itu terjadi saat aku dan Iren bertukar posisi. Duduk di samping Joohyun yang sejak tadi terus tersenyum menatapku.

“Hai,” dia menyapa ceria.

“Hai,” balasku lumayan kikuk.

“Aku membawa gitar, saem,” seorang murid perempuan di barisan depan berseru, “milik mendiang kakakku, daripada tidak terpakai makanya aku bawa. Siapa tau bermanfaat.”

“Kalau begitu di mana gitar itu sekarang?”

“Ini,” aku melihat gadis itu sedang mengambil gitar dari bawah kakinya, “tapi aku tidak bisa memainkannya.”

“Aku bisa,” semua mata terfokus pada Joohyun. Gadis di depan sana mengangsurkan gitar tersebut pada Joohyun, “terimakasih,” gadis itu tersenyum sebagai balasan.

“Sekarang, ada diantara kalian yang bisa bernyanyi?”

“Kyuhyun!” Jung Soo hyung berseru heboh, “suara Kyuhyun benar-benar bagus. Aku juga sempat mendengar Kyuhyun merupakan mantan vokalis band di sekolahnya yang lama.”

Jinjja?” Nyaris semua orang bertanya demikian.

Aku hanya bisa menggaruk tengkuk kaku. Terkadang aku merasa kesal karena harus terlahir dengan sifat lumayan pemalu dan selalu canggung seperti ini.

“Woah, kau benar-benar istimewa Kyuhyun,” kata Joohyun. Aku menatapnya, kami saling menatap. Sesuatu yang tadi pagi sempat aku rasakan kembali terasa. Mendebarkan, “ayo bernyanyi, biar aku yang mengiringi.”

“Ayo Kyuhyun!”

“Kyuhyun, ayo,” Iren memberi semangat dari depan.

Mau tidak mau aku terpaksa mengangguk. Lagu bruno mars, ‘just the you are’ menjadi pilihanku untuk bernyanyi. Mereka yang ada mengiringi. Suasana hening bus benar-benar berubah.

Selesai dengan lagu itu Jaehyun meminta gitar tersebut dari Joohyun. Gantian katanya. Selanjutnya Jaehyun yang bermain gitar dengan semua yang ada sebagai vokalis. Di tengah keriuhan mereka, terkadang ada yang berceletuk usil mengenai lagi yang Jaehyun nyanyikan sebenarnya didedikasikan untuk Iren. Sementara itu, Joohyun menusuk-nusuk kecil tangan kiriku.

“Hei,” panggilnya.

Aku menoleh menatapnya, “apa?”

“Suaramu bagus, aku menyukainya.”

Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, membuatku kehilangan suara. Namun semua lenyap saat Joohyun kembali bersuara dan tanpa sadar kami terlibat dalam berbagai percakapan kecil sampai rasa kantuk datang menyerang dan kami tidur dengan saling bersandar pada bahu masing-masing.

Sekitar satu setengah jam kemudian aku terbangun karena suara berisik di sekitar.

“Ayo cepat sebelum mereka bangun!”

“Ini sudah cepat!”

“Singkirkan tanganmu.”

“Ini blur, hyung.”

“Ah, dasar bodoh.”

“Payah!”

“Sini, biar aku saja yang memfoto mereka.”

Beberapa saat setelahnya, sebuah blitz kamera menyapa wajahku. Kelopak mataku mengerjap spontan sambil berdesis.

“Nah, ini baru bagus.”

Aku mendengar suara desisan, namun ketika aku berhasil meraih kesadaran secara utuh, tidak ada satupun diantara mereka yang sedang bercanda atau sebagainya. Sebagian dari mereka tertidur, selebihnya memainkan ponsel.

“Eungh,” aku baru sadar bahwa Joohyun sedang bersandar pada pundakku ketika dia menggumam.

Aku kembali tersenyum seraya menatapnya. Ada yang salah dengan diriku. Aku yakin. Karena entah mengapa ada sesuatu yang bergetar hebat dalam dada tiap kali menatap Joohyun. Entah perasan apa ini, yang jelas menggangu tetapi juga…

Menyenangkan?

***

Rombongan kami tiba sekitar pukul empat sore hari. Delapan jam kami menempuh perjalanan demi sampai di tempat ini. Sangat tidak mengecewakan. Bisa dibilang membayar rasa lelah kami.

Suasana tempat ini masih asri sekali. Terletak di pinggir sebuah sungai dekat hutan. Udaranya pun masih sangat sejuk, berbeda udara kota yang sudah terkontaminasi.

“Anak-anak, ayo turunkan barang-barang tadi, setelah ini kita akan berjalan menuju pemukiman.”

“Kita belum sampai, saem?” Tanya Iren memandang sekitar.

“Masih belum, beberapa puluh meter lagi kita baru sampai.”

“Oh.”

Selanjutnya, kami berjalan menyusuri daerah ini hingga nyaris masuk ke dalam hutan. Ternyata, pemukiman yang dimaksud bukan pemukiman pertama yang kami lihat tadi, melainkan pemukiman lain di dalam hutan.

Mereka ramah, tetapi masih terkesan menyeramkan karena mayoritas masih berpakaian hanbok dari jaman kerajaan. Jauh di luar ekspektasi, kupikir mereka galak dan menyeramkan, ternyata mereka sangat ramah dan welcome.

“Malam ini sampai beberapa hari kedepan kalian akan bermalam di sini,”

Tangan kanan Shin Dong saem mengarah pada sebuah rumah jaman kuno berukuran cukup besar.

“Ini untuk para gadis, sementara para lelaki tidur di rumah sebelahnya.”

Aku menatap bangunan yang berukuran lebih kecil ketimbang bangunan tadi. Hyuk Jae hyung menggerutu, “kupikir laki-laki dan perempuan tidurnya menjadi satu.”

“Enak dirimu kalau itu sampai terjadi,” sahut Shin Dong saem sinis yang langsung diderai tawa.

Sekalipun Shin Dong saem marah ataupun terlihat kesal, para murid akan tetap tertawa. Mungkin karena wajahnya yang selalu terlihat sedang guyon atau sebagainya.

“Sudah hampir larut, kalian bisa istirahat dulu. Nanti kita masak bersama-sama.”

“Baik, saem.”

Malam harinya, kami berkumpul untuk acara makan. Berhubung tidak ada yang pandai memasak, jadi kami hanya makan seadanya. Nyaris seperti hidup di jaman purba.

Sesekali Joohyun berceletuk mengenai hal konyol yang mendapat balasan tidak kalah konyol dari yang lain. Dan jujur, baru kali ini aku bertemu dengan gadis macam Joohyun yang sangat mempesona dan mengagumkan dari berbagai sisi.

“Ada apa Kyuhyun? Apa ada sesuatu di wajahku?”

“Eh?” Aku mengerjap cepat. Ketauan sedang memandang Joohyun secara diam-diam.

“Cie Kyuhyun, ketauan curi-curi pandang,” goda Jung Soo hyung seraya menyenggol pundakku dengan pundaknya karena dia berada di samping kiriku.

Couple baru akan segera hadir, saudara-saudara,” sahut Hyuk Jae heboh.

Suara gelak tawa mewarnai malam. Sementara aku tidak lagi dapat menjawab, sudah cukup malu sampai rasanya suara ini menghilang.

“Jangan diambil hati Kyuhyun, kami hanya bercanda,” Iren menepuk pahaku beberapa kali.

“Santai saja,” balasku.

“Tapi kau tadi terus saja diam, aku jadi merasa tidak enak hati,” dari nada bicaranya, aku yakin Iren merasa bersalah.

“Aku diam karena tidak tau harus bagaimana bereaksi.”

Tubuh Jung Soo hyung bergerak menghadapku. Saat ini kami sudah berada di dalam kamar kami karena malam sudah begitu larut.

“Kyuhyun?” panggil Jung Soo hyung.

“Hn?”

“Joohyun cantik, ya?”

“Cantik itu relative, hyung.”

Leher Jung Soo hyung bergerak menoleh secara bersamaan denganku, “Kau menyukainya?”

“Kupikir semua lelaki menyukainya, termasuk kau,” jawabku jujur.

Mata Jung Soo hyung menyipit, menatapku penuh selidik sebelum berkata, “jangan-jangan kau belum pernah berpacaran Kyuhyun?”

Menggelikan memang tapi inilah kenyatannya, “jangankan pacaran, suka dengan seseorang pun belum pernah.”

Jinjja?” Jung Soo hyung memekik keras.

“Kecilkan suaramu hyung!” Desisku, sedikit melirik ke samping kiri di mana Hyuk Jae hyung tertidur, “kasihan Hyuk Jae hyung, dia pasti kelelahan.”

Mengabaikan perkataanku, Jung Soo hyung justru berseru, “berarti Joohyun adalah cinta pertama pada pandangan pertama-mu?”

Dahiku mengernyit, “Ye?”

Jung Soo hyung merapatkan bibirnya lantas menggeleng sambil menarik lebar-lebar sudut bibirnya, membuat lesung pipinya terlihat lebih jelas dan dalam, “Hehe, tidak. Lupakan saja. Ayo tidur, sudah malam. Besok kita harus bangun pagi.”

“Hn,” aku mengangguk, “selamat malam.”

***

Hari pertama kegiatan kami dimulai dengan perkenalan kepada para penduduk sekaligus sosialisasi mengenai betapa pentingnya nilai pendidikan. Tanpa diduga, ternyata respon mereka cukup positif.

Mereka bercerita, sebenarnya sudah lama mereka menanti para relawan macam kami datang untuk membantu meningkatkan nilai pendidikan di desa ini, namun belum juga mendapat respon dari pemerintah sekitar.

Usut punya usut, rupanya bukan karena pemerintah tidak mengusahakan, hanya saja jarang ada yang mau mengajar di daerah ini. Selain karena jauh, ada rumor yang beredar bahwa tempat ini terkutuk. Banyak terjadi kejanggalan serta keanehan terjadi di daerah ini.

Hal tersebut sudah dibuktikan oleh beberapa orang mantan pengajar di sini yang hanya bertahan dalam waktu satu minggu. Setelah itu mereka memilih ke luar dari pekerjaan ketimbang harus mengajar di sana.

Hari kedua, kami mulai membentuk kelompok untuk merenovasi sebuah rumah menjadi tempat belajar. Sementara Shin Dong saem bertugas mengajari pada anak di sini.

Sore hari, kami mencari berkumpul di pinggir hutan bersama sebagian penduduk. Kata mereka, malam nanti akan ada acara adat seperti menari dan bernyanyi mengelilingi bara api.

Acara tersebut di mulai saat jarum jam di tangan kiriku menunjuk angka tujuh tepat. Mereka yang berpartisipasi dalam acara tersebut bersiap pada posisi masing-masing.

Namun yang menjadi pusat perhatianku bukan mereka, melainkan gerak-gerik aneh Joohyun. Sedari tadi dia terus saja melihat ke arah hutan lebat. Seperti mendapati suatu di sana.

Rasa takut menyergap ketika aku melihat Joohyun menepuk pundak Iren dan beranjak. Aku penasaran, selain itu aku juga khawatir terhadapnya. Sebab itu aku pamit pada Jaehyun yang kebetulan duduk di sampingku dengan alasan mau pergi ke toilet.

Selanjutnya, aku mengikuti Joohyun secara diam-diam. Dia benar-benar masuk ke dalam hutan tanpa rasa takut.

“Aku tau dari tadi kau memperhatikan kami, jadi aku mohon keluar lah,” Joohyun sedikit berteriak.

“Kami tentu akan merasa senang kalau kau mau ikut bergabung bersama kami. Tenang, bukan orang jahat.”

Aku terus mengawasi Joohyun dari kejauhan.

“Errr, siapapun kau, aku tau kau juga manusia, tidak akan mengigit kami kecuali kalau kami melakukan kesalahan, jadi aku mohon keluarlah.”

Ini dia cara khas membujuk dari seorang Seo Joohyun dan bolehkah aku sedikit tertawa?

“Hei!”

Secara tiba-tiba Joohyun berlari, aku juga sempat menangkap sebuah bayangan seseorang sedang berlari masuk ke dalam hutan.

“Jangan lari, tunggu aku!” Joohyun kembali berteriak.

Merasa panic, aku ikut berteriak. “Joohyun~ah berhenti, kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan.”

Terlambat. Pada kenyataannya kami memang sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan.

“Joohyun~ah tunggu!” Aku kembali berteriak saat Joohyun terus saja berlari masuk ke dalam hutan.

“Auuuwwww!”

Bola mataku melebar ketika melihat Joohyun terjatuh di sana. Aku segera berlari menghampiri.

“Gwaenchana?” Ujarku seraya membantunya berdiri.

“Auu, kakiku sakit Kyuhyun,” dia meringis pelan, “dan sepertinya aku tidak bisa berjalan.”

“Tck!” Aku berdecak, “sebenarnya kau itu mau kemana, huh? Kau tau, kita sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan.”

“Tadi aku melihat bayangan Kyuhyun, ada seseorang yang mengintai kita dari kejauhan,” ceritanya menggebu, terlihat jelas bahwa Joohyun begitu penasaran sekaligus tertarik dengan sosok itu.

“Tapi lihat, karena kecerobohanmu sendiri, kau terluka. Selain itu kita juga kemungkinan besar tersesat di dalam hutan. Untung aku diam-diam mengikutimu, bayangkan kalau tidak. Kau bisa celaka sendiri, Joohyun.”

Percayalah, untuk pertama kali dalam hidup, aku memarahi seorang gadis.

“Maaf—“

Aku berjongkok di hadapan Joohyun.

“Ah, sudahlah. Sekarang naik ke punggungku, kita cari jalan pulang.”

“Tapi—“

“Kakimu sedang sakit, Joo. Jangan membantah.”

“Aku berat Kyuhyun, kau pasti akan kerepotan.”

“Akan lebih merepotkan kalau kita tidak segera pulang, Joohyun.”

Manusia tidak ada yang sempurna dan kupikir, kekurangan dari Joohyun adalah sifatnya yang keras kepala.

“Ayo cepat naik!” Perintahku dengan nada sedikit meninggi.

Dapat kurasakan lengan Joohyun mulai melingkari leherku, disusul kedua kakinya mulai melilit pinggang. Aku tersenyum simpul ketika Joohyun berkata,

“Nanti kalau kau sudah tidak kuat bilang padaku, aku memang tidak bisa menggendongmu tapi kita dapat beristirahat sebentar.”

Aku mengangguk. “Kau tenang saja.”

Sayangnya, semesta seperti sudah berkonspirasi untuk menahan kami agar tegap tinggal di dalam hutan dalam kurun waktu cukup lama, dengan cara menurunkan hujan cukup lebat. Kami kalang kabut, segera berlari mencari tempat untuk berteduh dengan Joohyun yang terus mengomel minta diturunkan.

“Astaga Joohyun, bisakah kau diam sebentar.”

“Kau akan kesusahan bisa terus menggendongku.”

“Cerewet!” Desisku tajam.

“Kyuhyun!” Dia memekik keras saat aku berlari dan berhenti di sebuah gubuk kecil dalam hutan. Baru setelah itu aku menurunkan Joohyun.

“Kita di mana Kyuhyun?” Tanya Joohyun secara mengamati keadaan sekitar.

“Di mana pun kita saat ini, yang jelas tempat ini lebih aman dari pada tempat tadi.”

Aku mendesah lalu duduk bersandar pada dinding rumah ini. Sebenarnya aku sedikit terkejut dengan tempat ini. Pasalnya rumah ini berada di dalam hutan. Melihat dari segi keadaan yang begitu terawat aku dapat menyimpulkan bahwa tempat ini berpenghuni.

Aku menoleh saat Joohyun dengan terpincang duduk di sampingku. Aku bangkit menolongnya berposisi duduk. Dia tersenyum menatapku.

“Terima kasih,” ujarnya.

Kepalaku mengangguk.

“Kyuhyun~ah, maaf ya gara-gara tindakan cerobohku kau jadi ikut tersesat,” suara Joohyun lirih, penuh penyesalan.

“Kakimu bagaimana? Apa masih sakit?”

Joohyun mengangguk. Aku menselonjorkan kaki Joohyun, menggulung celana training yang dia pakai. Ada luka biru memar di pergelangan kaki kirinya.

“Auu asssshhh, sakit Kyu. Pelan-pelan!” Dia meringis saat aku menekan luka itu.

“Sepertinya kakimu terkilir.”

Jinjja?” Aku mengangguk, “pantas saja sakit sekali.”

“Makanya hati-hati.”

“Kalau tau aku akan terluka maka aku akan segera mencegah sebelum mengobati. Manusia tidak akan tau kapan mereka tertimpa musibah,” mirip seperti yang tadi pagi dia katakan.

Responsku hanya berupa kekehan pelan. Setelah itu keadaan hening. Sempat aku mendapati Joohyun beberapa kali mengelus perutnya sementara wajahnya meringis. Aku yakin dia pasti lapar karena sewaktu makan tadi sore, Joohyun tidak mau makan dengan alasan masih kenyang.

Aku menatap depan pada rinai hujan yang yang masih senantiasa turun. Justru lebih deras ketimbang sebelumnya. Tidak mungkin aku menerobos hujan demi mencari bahan pangan yang belum tentu aku dapatkan.

“Tunggu, di sini sebentar.”

Joohyun menarik sebelah lenganku, memeluknya erat, “kau mau kemana?”

“Mencari makanan.”

“Jangan bodoh,” Hardiknya seraya mengeratkan pelukannya padaku.

“Joohyun~ah, lapar bisa menyebabkan masuk angin. Kakimu sudah terluka, aku tidak ingin ada bagian lain tubuhmu yang terluka,” jelasku, “tenang saja, hanya sebentar. Aku janji.”

“Pakai ini dan tunggu aku.”

Aku melepas jaket yang kupakai kemudian memakaikannya pada Joohyun, “ingat, tunggu aku di sini.”

Joohyun perlahan mengangguk. Aku mulai melangkah mengelilingi rumah ini. Siapa tau di bagian belakang aku menemukan makanan.

Kedua kaki ini melangkah pelan agar tidak mengusik kenyamanan si penghuni. Sampai dari kejauhan aku melihat sesuatu, ada seseorang yang sedang mengintip dari belakang.

“Siapa di sana?!”

Sosok itu terlihat kaget, dia membelalakkan kedua bola matanya. Jangan-jangan dia adalah orang yang tadi Joohyun kejar.

“Tunggu! Berhenti di situ!”

Aku berlari ke arahnya yang dengan cepat meletakkan sesuatu setelah itu berlari dan nyaris terpeleset andai aku tidak memegang sebelah lengannya.

“Hati-hati!” Sentakku keras karena cukup khawatir.

Dia masih menatapku dengan pandangan terkejut sekaligus takut lantas segera melepas cekalan tanganku.

Aku menghela napas, “kau siapa?” Tanyaku pelan. Tidak ingin membuatnya takut karena nada bicaraku yang tinggi.

Bukannya menjawab, gadis berpakaian hanbok itu justru mengarahkan telunjuknya pada sesuatu yang sempat dia letakkan.

“Apa itu?”

“Makanan.”

Aku berdecak, “Aku tau, maksudku bukan itu. Tapi untuk apa makanan itu?”

“Untukmu.”

“Aku?” Aku merasa senang bukan main, bayang wajah senang Joohyun terlintas dalam pikiranku, membuatku tersenyum, “Joohyun pasti senang,” aku kembali menatapnya, “terima kasih,” ujarku tulus.

Dia mengangguk, “sampaikan salamku pada Joohyun.”

Selanjutnya dia menerjang hujan tanpa menjawab segala bentuk pertanyaanku. Aku hanya tidak mengerti dengan satu hal, kenapa dia bisa mengenal Joohyun?

“Oh. Mungkin gadis itu salah satu dari anak penduduk sekitar yang ingin mengucapkan terima kasih pada kita melalui namaku.”

Seperti itu respon Joohyun usai aku bercerita mengenai sosok gadis yang menurutku misterius tadi.

“Mungkin juga, dia adalah gadis yang tadi aku kejar. Karena merasa bersalah makanya dia memberikan makanan ini. Kebetulannya lagi dia mengetahui namaku.”

Kemungkinan-kemungkinan yang Joohyun ucapkan memang ada benarnya, tapi tetap saja terasa ada yang janggal.

“Bagaimana kalau dia berniat buruk? Kita harus waspada padanya.”

Joohyun menatapku sinis seraya berkata, “di sini yang seharusnya diwaspadai adalah kau, karena kau adalah laki-laki. Bisa kapan saja menerjangku, aku ‘kan bagaikan seekor kelinci menggemaskan.”

Aku mengendus seraya memukul pelan puncak kepalanya, “aish jinjja, kau ini.”

Dia hanya meringis lebar. Detik detik setelahnya masih diisi oleh suara hujan. Kami sama-sama terdiam karena jujur, aku mulai mengantuk. Aku nyaris tertidur ketika bahu sebelah kiriku terasa berat.

Kepalaku menoleh, rupanya kepala Joohyun jatuh dia tas bahuku. Dia sudah tertidur, mungkin karena kelelahan. Aku tersenyum menatap wajahnya yang begitu ayu meskipun dalam keadaan memejamkan mata seperti ini.

Bibirnya, kenapa bibirnya terlihat begitu menggoda. Aku menggeleng coba menepis pikiran buruk dari otakku. Sayangnya, bujuk rayu setan mendominasi. Pelan, aku mendekatkan wajah dengan wajah Joohyun lalu mengucap,

“Tampar aku bila kau sadar dan merasa marah, tetapi diamlah kalau kau menginginkannya, ijinkan aku mengecup singkat bibirmu sebagai tanda perkenalan sekaligus ketertarikan untuk pertama kalinya dalam hidupku.”

Detik berikutnya bibir kenyal Joohyun berhasil tersentuh oleh bibirku. Selama beberapa detik, tanpa balasan. Setelah merasa puas aku menjauhkan kepala dan bersilang tangan seraya memejamkam mata, ikut terlelap.

Aku tidak pernah tau bahwa sebenarnya Joohyun belum benar-benar tertidur. Dia bahkan sempat menatap ke arahku selama beberapa detik setelah aku tenggelam dalam alam mimpi. Aku juga tidak pernah tau bahwa dia sempat menggumam ‘manis’ seraya menyentuh bibirnya yang baru saja aku jamah.

“Manis.”

***

“Kyuhyun~ah.”

“Astaga Kyuhyun, Joohyun.”

“Ya Tuhan, Joohyun!”

Iren merupakan orang yang terlihat paling lega atas kedatangan kami. Joohyun turun dari punggungku.

“Sudah puas membuat kita khawatir, bodoh!” Umpat Iren seraya membantu Joohyun berjalan menuju rumah.

Shin Dong saem langsung meminta bantuan warga yang bisa memijat untuk memijat kaki Joohyun yang terkilir.

“Kyuhyun~ah, kau tidak apa, ‘kan?” Tanya Jaehyun khawatir. Dia memelukku begitu erat.

“Aku baik-baik saja.”

“Semalam apa yang terjadi?” Kini, Hyuk Jae hyung bertanya, “Joohyun masih perawan, ‘kan?”

“Astaga mulut bau-mu itu memang wajib dijahit, Oppa,” dari nada bicaranya aku tau Nari merasa kesal.

“Ini,” Nari memberiku sebuah gelas berisi teh hangat, “setelah ini mandi dan istirahatlah, biar kami yang mengurus semuanya.”

Aku mengangguk. “Terima kasih dan maaf karena sudah merepotkan.”

“Akan lebih baik kalau Joohyun yang sadar,” Jung Soo hyung mencibir.

Hari-hari selanjutnya, selama kami berada di daerah itu berjalan lancar seperti biasa sampai kami akhirnya hari akhir kami berada di sini tiba. Di tempat manapun, yang namanya perpisahan pasti diwarnai dengan tangisan. Begitupula dengan apa yang terjadi pada kami terutama kaum gadis. Jung Soo hyung juga menangis karena dia memiliki hati yang lembut meski terkadang saat berucap menyakitkan.

Pengalaman di tempat ini begitu menyenangkan dan meninggalkan kesan mendalam. Terutama tentang malam itu malam di mana kami terperangkap berdua di tempat itu. Parahnya, bukan hanya raga kami yang terperangkap tetapi hatiku juga terperangkap. Bukan oleh rumah itu, melainkan oleh Joohyun.

Jadi ini yang dinamakan dengan jatuh cinta?

***

Berita heboh yang aku dengar di hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas adalah mengenai hubungan Joohyun dengan seorang lelaki bernama lengkap Lee Donghae. Katanya mereka sedang dalam proses pendekatan.

Menurut kabar yang beredar Donghae adalah mantan pacar Joohyun semasa duduk di bangku SMP. Mereka sempat putus karena orang ketika ketika mereka kelas satu SMA ini.

Pada saat Hyuk Jae bercerita dengan menggebu aku hanya merespon sekenanya karena jujur, aku tidak tau bagaimana harus merespon. Aku mencintai Joohyun, jadi wajar bila aku bereaksi demikian, kan?

Oppa,” Nari menyiku perut Hyuk Jae menyadari perubahan mimik wajahku.

“Apa?” Suara Hyuk Jae hyung terdengar tidak terima atas tindakan Nari.

Nari menggerak-gerakkan bibirnya seakan mencibir sekaligus menceramahi Hyuk Jae, bola matanya sendiri berkilat kesal menatap kekasihnya tersebut.

“Ha?” Suara Hyuk Jae hyung terdengar tidak mengerti, “aku tidak paham.”

“Eum, hyung, Nari~ya aku mau ke kantin dulu,” Pamitku.

Nari mengangguk pelan, “Kyuhyun~ah,” dia memanggil ketika aku baru saja beranjak, aku menoleh, “percaya pada hati.”

Aku tersenyum mengetahui maksud di balik pesan tersebut kemudian berlalu untuk menaiki tangga menuju rooftop. Tempat berjualan ke tiga setelah perpustakaan dan taman sekolah ini.

Sebuah meja tua namun masih terlihat kokoh menjadi tempatku terduduk dengan wajah mendongak, menatap langit luas. Pikiranku sedang tidak berada pada tempatnya. Melalang buana jauh mengenang apa yang selama ini terjadi antara aku dan Joohyun.

Kami memang dekat, tapi itu terjadi beberapa minggu sebelum libur panjang, pun dalam kurun waktu kurang dari sepuluh hari. Kami dekat karena kami berada dalam misi dan tempat yang sama, yaitu mengajar sekaligus merenovasi sebuah rumah menjadi tempat belajar. Menghabiskan waktu bersama belum tentu membangun rasa yang sama pula.

Kedekatan kami hanya sebatas itu, tidak lebih dan tidak kurang. Kalaupun lebih, itu terjadi padaku karena si bodoh ini terlanjur jatuh cinta pada pesona Joohyun dalam pandangan pertama.

Rasanya sakit memang mendengar semua cerita Hyuk Jae hyung tadi, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak berhak memaksa Joohyun untuk membalas perasaanku. Sama sekali tidak berhak. Kalaupun memang begini nasib cinta seorang Cho Kyuhyun, maka biarlah menjadi sebuah pelajaran.

“Kau di sini rupanya,” seseorang berceletuk dengan suara terputus dari arah pintu.

Aku menoleh, sedikit terkejut mendapati Joohyun ada di sana.

“Joohyun.”

Joohyun tersenyum, “Kau sedang apa, Kyuhyun~ah?”

Aku tersenyum, “duduk.”

“Astaga,” desahnya seraya duduk di sampingku.

“Sudah dengar kabar belum?”

Kalau yang Joohyun maksud adalah kabar tentang dirinya dan Lee Donghae itu, aku sudah tau.

“Tentang?”

Joohyun menoleh ke arahku, dia tersenyum. Dan saat itu terjadi, rasanya persendianku melemas seketika. Aku belum sanggup mendengar kebenaran tentang kabar itu dari mulutnya secara langsung.

“Shin Dong saem mengundurkan diri.”

“Apa?” Sungguh, aku benar-benar terkejut. Mengenai kabar ini tidak ada yang memberitauku.

“Heum,” Joohyun mengangguk, kakinya berayun karena sedikit menggantung, “beberapa hari setelah kembali ke Seoul, Shin Dong saem memutuskan untuk kembali ke daerah itu. Katanya anak-anak di sana lebih membutuhkan bantuannya ketimbang kita. Jadi beliau memutuskan untuk mengundurkan diri.”

“Kau tidak sedih?” Tanyaku hati-hati, maklum sepertinya Shin Dong saem menjadi guru favorite Joohyun.

“Tidak,” jawabnya tegas seraya menggeleng, “kenapa harus sedih atas tujuan mulia? Sebaliknya, aku justru bangga.”

Seperti ini lah pola pikir Joohyun yang tidak pernah bisa ditebak.

“Kyuhyun,” dia kembali memanggil setelah cukup lama kami larut dalam diam.

“Apa?”

“Kau berbeda.”

“Berbeda?”

Dia mengangguk, “kau tidak seperti Kyuhyun-ku yang dulu, kau seperti orang lain.”

Joohyun menatap kedua bola mataku dalam, aku sampai di buat tidak bisa mengalihkan pandang darinya.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku,” jeda sejenak, Joohyun terlihat sedang memikirkan sesuatu lantas bibir mungilnya mulai kembali terbuka untuk berkata, “apa mungkin perubahanmu ini karena rumor sialan itu?”

Aku mendesah, “takutnya kalau aku tetap berada di dekatmu, kekasihmu akan salah paham, Joo.”

“Siapa yang bilang dia kekasihku?” Tanya Joohyun sedikit membentak, dari nada bicaranya aku yakin dia cukup tidak menyukai kata kekasih, “mantan kekasih memang, tapi kalau kekasih bukan. Rumor sialan ini juga muncul dari mulut-mulut kurang belaian. Padahal waktu itu kami hanya tanpa sengaja bertemu di sebuah kafe, Donghae juga bersama kekasihnya. Jadi jangan khawatir, aku masih free, jangan cemburu, ok?” kemudian dia tergelak kencang.

Dan rasanya beton raksasa dikedua pundakku lenyap entah kemana mendengar penjelasan itu dari Joohyun sendiri, tapi…

“Kenapa pula aku harus cemburu?”

“Karena mungkin kau menyukaiku,” Joohyun terkekeh pelan, “kalau tidak mana mungkin kau bisa berubah seperti ini.”

Joohyun sama sekali tidak memberiku kesempatan bicara dengan langsung menarik lenganku. Mengajakku turun untuk melihat aku dan dia duduk di kelas mana.

Sepertinya semesta memang benar-benar sudah berkonspirasi untuk mempersatukan kami. Karena rupanya, aku dan Joohyun satu kelas.

“Demi Tuhan aku senang sekali bisa satu kelas denganmu, Kyuhyun.”

Sembari memekik girang, Joohyun menggenggam erat tanganku. Nyaris memeluk tubuhku andai Iren tidak datang dan berdehem menyindir.

“Aku juga satu kelas denganmu, Joo. Kau tidak senang?”

Joohyun melepas genggaman tangannya lalu berbalik ke arah Iren. Aku hanya menggelengkan kepala bila Joohyun sudah bertemu dengan kembaran tapi berbedanya ini.

“Dari kecil kita sudah bersama, aku malas melihat wajahmu terus.”

“Bukan hanya kau, aku juga malas.”

“Ya sudah.”

“Ya sudah.”

“Aku duduk dengan Kyuhyun kalau begitu.”

“Siapa juga yang ingin duduk denganmu, aku sudah memutuskan untuk duduk bersama Jaehyun.”

“Jaehyun satu kelas dengan kita?” Tanya Joohyun, Iren mengangguk.

Aku kembali menatap papan pengumuman di mana nama kami terpanjang. Rupanya benar, Jaehyun masuk dalam kelas yang sama dengan kami. Hanya Hyuk Jae yang duduk di belas berbeda, tapi aku rasa dia lebih senang karena bisa satu kelas dengan Nari, kekasihnya.

Suara bell masuk membubarkan kerumunan kami. Aku, Joohyun dan Iren berjalan bersama ke dalam kelas. Seperti yang sudah disepakati. Aku duduk bersama Joohyun sementara Iren bersama Jaehyun. Bangku kami depan belakang.

Wali kelas kami datang, memperkenalkan diri sebelum akhirnya mempersilakan seorang murid baru. Namanya Yoon Ah, pindahan dari Busan. Usai memperkenalkan diri, Yoon Ah duduk di bangku kosong depan Joohyun.

Joohyun menjulurkan badannya ke depan, menepuk pundak Yoon Ah dua kali. Yoon Ah menengok.

“Hai, namaku Joohyun, salam kenal Yoon Ah~ya,” ujar Joohyun riang, seperti biasanya.

“Yoon Ah.”

“Marga-mu, Ah? Lucu ya?” Joohyun terkikik atas ucapannya sendiri, “Aku harap kita bisa menjadi teman baik,” Joohyun melirikku, “oh ya, perkenalkan, ini namanya Kyuhyun. Tampan ‘kan?”

“Joohyun~ah, jangan mulai,” seru Iren dari belakang.

Joohyun tergelak, membuat Han saem menegurnya.

“Sekarang kita mulai pelajaran pertama.”

Entah mengapa aku seperti mengenal suara seorang Yoon Ah. Gadis itu…

“Ah, maaf.”

Tanpa sengaja aku menabrak seseorang saat baru saja keluar dari toilet.

“Aku yang salah,” ujar gadis itu sembari merunduk meminta maaf.

“Kau,” dia mengangkat wajah, “Yoon Ah?”

“Maafkan aku Kyuhyun-ssi.”

Aku menggeleng, “tidak, aku yang salah. Aku berjalan tanpa melihat sekitar,” ujarku, “kalau begitu aku masuk kelas dulu.”

Yoon Ah mengangguk. Aku berjalan melewatinya, baru lima langkah, tetapi langkahku kembali terhenti akibat rasa penasaran.

“Um, maaf,” dapat kulihat Yoon Ah berbalik menatapku, “sebelumnya, apa kita pernah bertemu?”

“Di dalam kelas tadi kita bertemu, Kyuhyun-ssi,” jawab Yoon Ah dengan senyum jenaka.

“Ah bukan itu maksudku. Habisnya suaramu terdengar tidak asing tapi lupakan saja, tidak penting.”

Setelah itu aku benar-benar berlalu untuk kembali masuk dan mengikuti pelajaran.

***

Kegiatan Joohyun selama satu minggu belakangan ini adalah pendekatan dengan Yoon Ah. Yoon Ah gadis baik, aku akui itu tapi entah mengapa aku merasakan sebuah kejanggalan. Entah itu apa aku juga tidak tau.

“Hei Kyuhyun,” suara Hyuk Jae hyung memanggil.

“Sendirian saja? Joohyun, Jaehyun dan Iren mana?”

Hyuk Jae hyung duduk di sampingku. Kami sedang berada di kantin karena ini jam istirahat.

“Mereka mencari bahan diskusi di perpus.”

“Oh.”

“Bagaimana kelasmu yang baru hyung? Menyenangkan?”

Hyuk Jae hyung belum membalas, dia memesan makanan ringan lengkap dengan minumannya, kemudian baru menjawab.

“Teman itu ibarat bintang, sementara kekasih adalah rembulan. Rembulan memang elok dan mengagumkan, tapi tanpa adanya bintang bulan terlihat biasa saja, hampa. Langit saja terlihat mendung tanpa bintang, Seperti aku tanpa kalian.”

Aku terbahak keras mendengar jawaban Hyuk Jae hyung, ternyata dia juga bisa bicara seperti itu.

“Aku senang bisa berada di dekat Nari, tapi jauh dari teman dekat adalah neraka bagiku.”

“Kalau begitu pindah saja ke kelas kami.”

“Maunya juga begitu kalau bisa,” pesanan Hyuk Jae hyung datang, “gomawo ahjumma.”

“Sama-sama Hyuk Jae~ya,” balas penjaga kantin ini.

“Oh ya Kyu, bagaimana dengan si murid baru itu?”

“Janggal,” balasku jujur.

Seketika Hyuk Jae menghentikan kegiatannya memakan untuk menatapku dengan dahi Berkerut.

“Kalaupun aku menjelaskannya panjang lebar, kau juga beluk tentu paham hyung, bukan bermaksud merendahkan daya pikirmu atau apapun karena sebenarnya sampai saat ini aku juga masih bingung.”

“Jaehyun dan yang lain sadar akan kejanggalan itu?”

Kepalaku menggeleng pelan. Sebenarnya aku benar-benar merasakan firasat tidak enak bila ada di dekat Yoon Ah. Gadis itu terlampau misterius bagiku.

“Jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Sekarang lebih baik kita makan. Atau oh, ini, kau bisa makan bersamaku,” ujar Hyuk Jae hyung seraya mendorong mangkuk makanannya mendekat padaku dan mengulurkan sepasang sumpit.

Gomawo,”

“Tentang ceritaku hari itu, aku minta maaf. Aku benar-benar lupa kalau kau menyukai Joohyun. Maafkan aku, Kyuhyun,” jeda sejenak, “Oh ya, omong-omong bagaimana hubunganmu dengan Joohyun? Ada kemajuan?

***

“Joohyun,” tanganku melambai ketika menyerukan namanya.

Joohyun terlihat berbincang sesaat dengan temannya kemudian mengangguk dan berjalan mendekatiku.

“Mau pulang bersama?”

Joohyun tersenyum lebar dan mengangguk semangat, “boleh,” jawabnya.

Joohyun segera duduk di atas boncengan sepedaku dan kedua kaki ini segera mengayuh sepeda ini. Dalam perjalan pulang kami bercerita banyak hal, tentang apapun itu. Kerap kali Joohyun terbahak ketika aku bercerita lucu, sementara reaksi paling lepas dariku hanya tawa ringan.

“Kau tau, dulu aku sering pulang dibonceng appa seperti ini. Tapi semenjak kematian eomma, appa jadi sibuk dengan pekerjaannya,” cerita Joohyun.

“Ibumu sudah meninggal?”

“Eum,” dia menggumam, “Kyuhyun, aku boleh ‘kan memelukmu?”

Karena pertanyaan satu itu, seluruh syarat dalam tubuhku terasa bereaksi berlebihan sampai telapak tangan ini mengeluarkan keringat. Jantungku juga mulai berdegup kencang.

Lantaran aku belum juga menjawab, Joohyun kembali bertanya, “boleh tidak, Kyuhyun?”

Aku tersentak, secara reflek kepala ini mengangguk, “tentu boleh,” jawabku gugup.

Ya Tuhan, tolong jangan ijinkan Joohyun mendengar setup jantungku. Rasanya memalukan kalau sampai dia mengetahui bagaimana jantung ini berdetak.

“Nyaman,” gumam Joohyun seraya mengeratkan melakukannya, bersinergis dengan kayuhan sepeda ini yang justru melambat. Aku ingin moment ini berjalan cukup lama. “Aku lapar, kau mau kan menemaniku makan?”

Sekali lagi aku mengangguk dan mulai mempercepat kayuhan sepeda guna menemukan tempat makan terdekat. Aku nyaris berhenti di sebuah kedai ketika Joohyun menarik kerah bajuku.

“Kita makan di restaurant, bukan di sini.”

Aku mendesah, “baiklah tuan puteri.”

Joohyun tergelak keras atas sebutanku padanya tersebut. Kami memilih meja di sudut ruangan ini dengan Joohyun menghadap pintu keluar. Sekitar sepuluh menit setelah kami memesan makanan, pesanan kami datang.

“Woah, terima kasih,” seru Joohyun pada waiters yang tadi mengantarkan pesanan.

“Silahkan menikmati,” ujar waiters itu mempersilakan.

Aku mengangguk, “terima kasih.”

Selanjutnya kami makan dengan khidmat pada menit-menit awal sebelum Joohyun terlihat aneh. Sedari tadi dia terus menatap lurus ke depan seolah memastikan sesuatu. Aku menoleh, berusaha melihat apa yang sedang Joohyun lihat. Namun tidak ada sesuatu yang menarik di luar sana.

“Kyuhyun~ah, aku ke toilet sebentar,” begitu tergesa Joohyun melangkah menjauh bahkan sebelum aku menjawab.

Ada rasa ingin membuntuti namun aku sadar, aku bukan siapa-siapa Joohyun selain teman. Aku tidak boleh terlalu ikut campur masalah pribadi gadis itu. Aku harus tau di mana letak batasan-batasan sebagai seorang teman.

“Kyuhyun~ah!”

Kupikir itu adalah suara Joohyun ternyata bukan, melainkan suara Iren.

“Iren?” Kataku menyebut namanya, “kau sedang apa di sini?”

“Kau sendiri?” Tanya Joohyun balik.

“Makan.”

“Bersama?” Bola mata Joohyun bergerak pada piring makanan Joohyun, dia menyeringai kemudian. “Ceritanya kalian sedang kencan?”

Cepat-cepat aku menggeleng, “tidak!”

“Halah!” Iren mengendus, “mengaku saja, lagipula aku juga sudah lama tau kau menyukai Joohyun. Sejak awal kalian bertemu, ‘kan?”

Sekeras apapun aku berusaha membantah, Iren tetap kukuh pada pendiriannya. Aku sadar, bahwa sebenarnya perasaan perempuan lebih peka dari seorang lelaki. Lalu, apa Joohyun juga sadar kalau aku mencintainya?

“Kyuhyun~ah, sebelum ada yang mengikatnya, lebih baik kau mengikatnya terlebih dahulu. Aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu.”

Aku terdiam.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Tadi aku hanya mampir untuk menyapamu,” pamit Iren melambaikan tangan.

Tidak lama setelahnya Joohyun kembali, dengan keadaan berbeda, tanpa sepatah kata apapun dia mengambil tasnya lalu pergi meninggalkanmu beserta rasa bingung yang melanda.

Apa yang terjadi padanya?

***

Keesokan hari, sepulang sepulang sekolah sebuah kertas terlipat jatuh ketika aku membuka loker. Tempat ini sepi karena sebagain besar murid sudah pulang, tersisa aku dan Jaehyun yang kebetulan selesai ekstra kurikuler basket.

“Ada apa Kyuhyun?” Tanya Jaehyun penasaran sembari mendekat.

Dia mengambil alih surat tadi kemudian membuka sekaligus membacanya,

“Maaf atas apa yang terjadi, bisakah besok kita bertemu di rooftop?” Begitu bunyi surat yang Jaehyun bacakan.

Seketika aku teringat sesuatu. Kejadian kemarin sore di restaurant. Joohyun. Mungkinkah pengirim surat ini adalah Joohyun? Suara tawa Jaehyun menyentakku pada kenyataan.

“Sejak kapan Joohyun menulis surat seperti ini? Sama sekali bukan gaya seorang Seo Joohyun, tapi menarik.”

Jaehyun menatapku dengan senyum jahil.

“Kapan kalian jadian? Kenapa tau-tau kalian sedang ada masalah? Kita ini kan kawan, tapi kenapa hal seperti ini kau sembunyikan dari kami?”

“Jae—“

“Tapi tidak masalah,” Jaehyun memotong perkataanku, “mungkin kalian masih malu-malu untuk mempublikasikan hubungan kalian.”

“Jaehyun~ah sebenarnya—“

Lagi-lagi dia memotong, “ayo pulang.”

Aku hanya bisa mendesah kemudian mengangguk menyetujui. Sesampainya di rumah, ibu menyambut. Menyuruhku untuk berganti pakaian dan tidur siang.

Di umurku yang sudah menginjak angka tujuh belas ini, ibu masih memperlakukanku seperti anak kecil. Sewajarnya aku marah, tetapi aku justru senang karena ibu masih begitu memperhatikanku. Mungkin efek karena Ahra nuna sudah tinggal besama suaminya, secara otomatis seluruh kasih sayangnya tumpah padaku.

Eomma.”

Selepas berganti pakaian aku menemui eomma di ruang kerjanya. Ibuku adalah seorang penjahit, sementara ayahku seorang guru di sebuah sekolah negeri.

“Hn?”

“Dulu waktu eomma dan appa berpacaran bagaimana? Maksudku siapa yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu?”

Ibu menurunkan sedikit kacamatanya kemudian menatapku, “ada apa? Tumben sekali kau bertanya seperti ini.”

Aku tersenyum kikuk, menggaruk tengkuk yang mendadak terasa gatal, “hanya ingin tau saja.”

Ibu tersenyum simpul, “kau sedang jatuh cinta?”

“Eh?”

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan ibu, hanya aliran darahku saja yang salah karena rasanya aliran darah berpusat pada pipi sehingga menyebabkan pipiku terasa panas.

“Putera kecil eomma sudah besar rupanya,” ibu kembali tertawa kecil, dia membenahi kacamatanya lalu mulai kembali mengoperasikan mesin jahit sambil bercerita.

“Pada dasarnya, pengalaman cinta seseorang itu berbeda-beda, kalau kau bertanya bagaimana kisah cinta eomma dan appa, rasanya pahit. Banyak lika-likunya, tapi dari lika-liku tersebut, eomma dan appa mendapat banyak pelajaran berharga terutama tentang belajar bersabar,” ibu bercerita.

“Kami sempat terpisah selama bertahun-tahun, kami saling menanti tanpa tau kepastian tapi pada akhirnya kami dapat bersama sampai detik ini. Eomma sangat bersyukur bisa menikah dengan appa-mu dan memiliki anak sepertimu juga Ahra. Kalian adalah harta paling berharga milik eomma.”

Gerakan tangan ibu kembali berhenti, suara mesin jahit juga tidak terdengar, ibu menatapku.

“Ada apa? Apa kau dan kekasihmu sedang ada masalah.”

Aku mendelik lalu cepat-cepat menggeleng, “tidak. Aku belum memiliki kekasih, masih on the way,” ujarku seraya terkekeh. Ibu juga terkekeh.

“Kau ini ada-ada saja.”

“Sebenarnya aku berniat menyatakan cinta padanya eomma, tapi aku ragu.”

Wajahku merunduk.

“Kenapa ragu?”

“Takut ditolak.”

“Urusan ditolak atau tidaknya itu urusan nanti, yang penting tekad dan keberanian untuk mengungkapkan. Karena setau eomma, kebanyakan pemuda jaman ini berani menyatakan perasaan melalui media sosial atau perantaraan lainnya, jarang ada yang menyatakan secara langsung dengan alasan takut ditolak,” ibu menjeda sejenak, “eomma tidak ingin putera eomma menjadi salah satu dari mereka yang bernyali kecil.”

Tubuhku jatuh tengkurap di atas ranjang. Malam ini otakku dipenuhi oleh nama dan wajah Joohyun. Nyaris tidak ada tempat tersisa untuk memikirkan hal lain.

“Sepertinya memang benar, sebelum terlambat pula. Aku harus bergerak cepat.”

Mata ini terpejam pelan tanpa berganti posisi. Tidur dengan harapan dapat memimpikan seorang Seo Joohyun.

***

“Kyuhyun!”

Suara khas seseorang membuatku menoleh untuk memastikan terkaanku, benar adanya, seseorang itu Joohyun.

“Kyuhyun~ah, kau bisa membantuku?”

Kami berjalan beriringan sepanjang koridor menuju kelas.

“Bantu apa?”

“Membuat desain,” Joohyun menatapku, “aku dengar kau juga pandai mendisain.”

Pada detik berikutnya bibir Joohyun mengerucut, “sebenarnya apa yang tidak bisa kau lakukan Kyuhyun? Kau tau, kau itu nyaris sempurna.”

Aku terkekeh kecil atas pujian tersebut, “terima kasih.”

“Bagaimana? Mau tidak?”

“Akan aku usahakan.”

“Bagus!”

Joohyun menepuk tangan lalu megeluarkan sesuatu dari dalam saku seragamnya. Sebuah kertas yang kemudian dia lipat sebelum dirobek.

“Kau disain di kertas ini, sementara aku juga akan coba membuat desain lain di kertas ini,” dia menggoyangkan sebelah kertas itu.

Aku mengangguk.

“Kyuhyun.”

Tepat di ambang pintu, Joohyun kembali memanggilku. Kami berhenti hampir bersamaan.

“Ya?”

“Untuk kejadian kemarin lusa, aku minta maaf,” katanya seraya membungkuk, “aku menunggumu.”

Joohyun segera berlari setelah mengatakannya. Iren yang kebetulan menyaksikan tersenyum menyeringai.

“Ehem! Yang sudah baikan,” ejeknya, “pajak jadian masih setia ditunggu,” dia menepuk pundakku.

Bel istirahat berbunyi. Teringat dengan isi kertas kemarin berlari menuju rooftop untuk menemui Joohyun. Namun setibanya di sana, bukan Joohyun yang aku temui, melainkan Yoon Ah.

Dia tersenyum padaku, “hai,” Sapanya.

“Kenapa kau bisa berada di sini? Mana Joohyun?” Tanyaku to the poin.

Tubuh serta kedua bola mataku masih berputar mencari Joohyun, namun entitas gadis itu tidak sama sekali terlihat. Aku kembali menatap Yoon Ah.

“Tadi Joohyun ke sini, ‘kan?”

“Kau ini bicara apa? Sejak tadi aku sudah menunggumu di sini, tidak ada Joohyun juga tidak ada yang lain. Hanya aku yang berada di sini.”

Aku mulai dibuat tidak paham. Secara tiba-tiba aku menduga bahwa surat itu bukan berasal dari Joohyun, melainkan dari Yoon Ah.

“Tunggu—“ aku mencegah ketika Yoona Ah bergerak mendekatiku, “sepertinya ada kesalahpahaman, kedatanganku bukan untuk menemuimu Yoon Ah~ya, melainkan untuk menemui Joohyun.”

Seolah tuli, Yoon Ah tetap melangkah dan berhenti beberapa centimeter dariku.

“Aku mencintaimu, Kyuhyun,” akunya, “mencintaimu sejak awal kita bertemu, aku mencintaimu. Itu yang ingin aku katakan.”

“Yoon Ah~ya, tunggu dulu ak—“

“Aku tidak peduli, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, aku rela pindah ke sekolah ini demi bertemu denganmu, demimu.”

Jarak diantara kami nyaris tidak tersisa manakala dia kembali melanjutkan langkah. Bodohnya, kaki ini terasa sulit bergerak.

“Aku begitu menyayangimu, aku tidak ingin kau pergi dariku. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Aku terdiam, beku atas pengakuannya. Tubuhku mengalami tremor. Satu-satunya yang menyadarkanku saat itu adalah suara benda terjatuh.

Segera aku mendorong tubuh Yoon Ah hingga terjatuh lalu meninggalkannya begitu saja. Aku tidak peduli. Aku takut. Aku takut kalau suara benda jatuh itu berasal dari Joohyun. Aku takut.

Dua langkah kaki ini menginjak anak tangga, sesuatu menghentikan langkahku. Sebuah kertas mirip dengan kertas yang berada dalam kantung celanaku. Kertas milik Joohyun.

Pikiranku berkecamuk. Rasa takut membuat langkahku tergesa hingga aku nyaris terjatuh andai tidak berpegangan dengan kuat pada pembatas tangga. Setibanya di dalam kelas, aku tidak melihat Joohyun. Hal ini semakin membuatku merasa cemas.

“Sialan!” Untuk pertama kali aku mengumpat dalam hidup aku mengumpat.

Segera aku berlari ke luar kelas mencari keberadaan Joohyun. Ketika itu aku bertemu dengan Hyuk Jae dan Nari.

Hyung!”

“Kyuhyun~ah, kau kenapa?”

“Kalian bertemu Joohyun tidak?”

Hyuk Jae menggeleng, “aku belum melihatnya.”

“Tadi aku sempat bertemu dengan Joohyun dan Iren, mungkin mereka sedang berada di taman, coba saja kau cari ke sana.”

Dengan segara aku mengangguk, melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Benar saja, aku menemukan Joohyun sedang bersama Iren di taman. Seketika aku dapat mendesah lega.

“Joohyun,” panggilku.

Iren menoleh terlebih dahulu, disusul oleh Joohyun.

“Kyuhyun.”

“Oh Kyuhyun~ah, ada apa?”

Tuhan, bolehkah aku mengusap syukur atas sikap ceria Joohyun ini. Ekspresi dan reaksi Joohyun masih sama seperti sebelumnya, itu berarti Joohyun tidak tau apa yang sudah terjadi antara aku dan Yoon Ah.

Kertas milik entah siapa dalam genggaman aku tempat hingga tidak berbentuk.

“Gwanghwamun, hari minggu, jam tujuh malam.”

***

Hari ini, hari di mana aku mengadakan janji dengan Joohyun untuk bertemu, aku berdiri dengan sebuah payung yang melindungimu dari salju. Di leherku sendiri terdapat syal hangat buatan ibu agar suhu tubuhku tetap terjaga.

Dalam benakku sudah banyak melintas berbagai ekspresi dan reaksi seorang Seo Joohyun bila dia mendengar pengakuan cintaku. Aku yakin terkejut merupakan ekspresi yang paling mendominasi.

Aku melirik jam tangan, Joohyun terlambat lima belas menit. Aku pikir ini wajar. Rumah Joohyun cukup jauh dari tempat ini jadi wajar kalau dia terlambat datang. Tiga puluh menit keterlambatan Joohyun, aku masih menganggapnya wajar.

Orang-orang yang tadi masih terlihat berjalan ke sana ke mari mulai hilang satu persatu lantaran waktu mulai menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu berarti Joohyun sudah terlambat selama dua jam.

Bodohnya, sampai detik ini aku masih mewajarinya. Mungkin di rumah Joohyun sedang ada cara, maklum orang kaya. Jadi dia terlambat dalam jangka waktu cukup lama. Yang harus aku lakukan adalah bersabar dan terus bersabar.

Aku mulai menggosok-gosokkan tangan ini yang rasanya nyaris membeku.

“Sabar Kyuhyun, sebentar lagi Joohyun pasti datang. Sabar, sabar,” sisi ego stat memberi dukungan semangat.

Sebuah benda dalam kantung celanaku bergetar. Payung dalam genggaman tanganku aku lepaskan. Aku sangat berharap bahwa yang menghubungiku adalah Joohyun, namun rupanya bukan, yang menghubungiku adalah ibu.

“Hallo?”

“Kyuhyun~ah, kau ada di mana sayang? Kenapa belum pulang? Ini sudah malam.”

“Sebentar lagi, eomma.”

“Tapi Kyuhyun—“

“Aku tutup teleponnya eomma.”

Jarum jam tanganku menunjukan pukul sebelas malam. Selama empat jam Joohyun terlambat, mungkin jalanan macet karena tumpukan salju. Aku harus terus berpikir positif.

Aku harus tetap menunggu, aku harus tetap berada di sini, siapa tau nanti Joohyun datang. Kasihan Joohyun apabila dia datang tapi aku tidak ada di sini. Aku harus tetap semangat. Aku harus tetap menunggu Joohyun-ku.

“Joohyun~ah, tenang saja, aku akan tetap menunggumu, jangan khawatir.”

Aku tidak tau kenapa air mata ini mengalir membasahi pipi padahal seharusnya aku bahagia. Aku harus menunggu Joohyun dengan senyuman agar ketika dia datang, dia merasa senang.

“Aku harus segera mengatakan kalau aku mencintaimu sebelum terlambat, sebelum Donghae itu merebutmu dariku jadi aku mohon datanglah.”

Tapi pada kenyataannya, Joohyun sama sekali tidak datang. Sementara kenyataan yang lain, aku masih tetap setia menunggu Joohyun di bawah hujan salju dan tumpukan benda itu di berbagai tempat. Menyulap apapun yang ada menjadi warna putih, warna salju.

Pukul dua belas lewat delapan menit. Sampai detik itu aku masih setia menunggumu, Joohyun.

To be continue…

Yosh! Aku bawa trilogi pertama pemirsa Wkwkwk. Maaf ya kalo aneh plus feel ancur. Semoga suka dan menikmati. Bakalan happy ending kok, tenang. Kalau mood nggak mendadak berubah sih sebenernya hahaha.

Panjang, kan by the way? Voment dari kalian ditunggu sangat biar cepet Update.

Arigatou gozaimasu….

[-/-/-]

Advertisements

8 thoughts on “TRILOGI LOVE TO LOVE seri 1

  1. Bikin penasaran sama ceritanya. Banyak hal yang ganjal yang belum diketahui. Kenapa seo ronnie gak dateng² sih. Ada apa dengan seo eonnie . apa ada hal yang terjadi. Apa ada hubungannya dengan seo eonnie yang pergi waktu di restoran?
    Ditunggu next chapternya
    Nice…..

    Like

  2. tumben y ffnya school life btw ini kan diambil dari sisi kyuhyun next part ada ngak yg ceritanya diambil dari sisi seohyun?
    seohyun suka ngak sih ma kyuhyun?next y

    Like

  3. Aku suka sama jalan ceritanya keren! Btw ini diambil dari sudut pandang kyuhyun semua apa next part juga sama?

    Penasaran!! Next part jngn lama2 yahh hehe jngn sampe berubah pikiran ya thor happy ending aja

    Like

  4. Dari awal cerita seru,menarik, pas terus lanjut ke tengah mulai misterius bikin penasaran terus sampai mau akhir makin misterius pen cpt selesai bacanya dan setelah selesai tambah bikin penasaran…
    Ini ceritanya kaya lagunya kyuhyun gwanghwamun nungguin ceweknya ampe lumutan.. itu si joohyun salah paham ya dia pasti lihat yoon ah sama kyuhyun di loteng. Dan yoon ah itu gadis yg ngasih makanan di hutan waktu itu. Bikin penasaran bngt, cpt dilanjut ya…

    Like

  5. Jangan” yon ah itu gadis yg ada di hutan itu ya? Loh kok joohyun eonni gk dateng ke tempat janjian’a sama kyu oppa…
    Next

    Like

leave a comment^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s